Rumah Sarpin ada di gang ketiga sesudah masjid, rumah kedua dari ujung, tembok setinggi dada lalu papan sampai atap.
Hari Minggu rumah itu berbau uap.
Yuni bekerja di laundry sejak jam tujuh dan pulang membawa pekerjaan yang belum selesai kalau sedang banyak. Hari itu ada dua karung. Ia menyetrika di ruang depan, di atas alas yang digelar di lantai, dengan setrika yang kabelnya sudah dililit isolasi di tiga tempat. Kipas angin diarahkan ke punggungnya, bukan ke mukanya.
Sarpin duduk di kursi rotan dekat pintu, mengupas kulit ari dari kacang rebus, menaruh yang sudah bersih ke piring kecil.
Sebelum itu ia sudah mengerjakan satu hal. Di atas koran yang digelar di lantai teras ada bantalan tinta milik kantor kecamatan, kotak logam pipih yang catnya sudah terkelupas di dua sudut. Ia membawanya pulang kemarin sore, sesudah semua terkunci, karena teringat di jalan.
Ia membuka tutupnya. Kainnya kering dan keras di tengah, masih basah di pinggir, seperti tanah sawah yang lama tidak diairi.
Ia menuangkan tinta sedikit demi sedikit, melingkar dari tepi ke tengah, bukan langsung ke tengah, karena kalau langsung ke tengah nanti menggenang dan cap pertama akan blobor. Sesudah itu ia menekan kainnya dengan punggung sendok, merata, sampai tintanya turun.
Lalu ia menutupnya dan meninggalkannya di teras supaya kena angin, tidak kena matahari.
Pekerjaan itu memakan waktu dua puluh menit dan tidak ada yang membayarnya.
"Pak, jangan dikupasin," kata Yuni tanpa mengangkat kepala. "Nanti nggak ada kerjaan buat orang lain."
"Nggak ada orang lain."
"Ya sudah, terserah."
Kacang itu memang untuk Yuni. Yuni tahu, dan Sarpin tahu Yuni tahu, dan piring itu tetap ditaruh di dekat alas setrika tanpa dikatakan apa-apa.
Ratri pulang pukul sebelas, membawa map plastik warna merah dan berjalan lebih cepat dari biasanya.
"Bu."
"Kenapa?"
Ratri tidak langsung menjawab. Ia melepas sandal, menaruhnya lurus di rak, lalu duduk di lantai di seberang alas setrika, dan baru sesudah itu membuka mapnya.
"Aku diterima."
Yuni mengangkat setrikanya dan menaruhnya berdiri.
"Yang di kecamatan itu?"
"Iya."
"Berapa?"
"Tiga bulan dulu. Nanti kalau lanjut, diperpanjang." Ratri menyebut angkanya.
Yuni diam sebentar, lalu mengangguk satu kali. "Ya sudah. Lumayan."
Kalimat itu terdengar dingin kalau ditulis. Tapi Yuni kemudian mencabut setrikanya dari colokan, padahal masih ada delapan potong di karung, dan pergi ke dapur untuk menggoreng telur. Itu caranya.
Sarpin belum mengatakan apa-apa. Ia masih memegang kacang.
"Mbah," kata Ratri.
"Iya."
"Mbah dengar tidak?"
"Dengar."
Ratri menunggu. Sarpin meletakkan kacang yang belum sempat ia kupas kembali ke piring yang kotor, bukan ke piring yang bersih, lalu berdiri dan masuk ke kamarnya. Ia keluar lagi membawa amplop cokelat yang sudah lama, mengambil selembar uang dari dalamnya, dan menaruhnya di depan Ratri di lantai.
"Buat sepatu," katanya. "Yang kerja di dalam kantor sepatunya jangan yang itu."
"Mbah, aku belum digaji juga sudah—"
"Nanti kalau sudah digaji, ganti."
Ia duduk lagi. Ia mengambil kacang dari piring yang kotor dan mengupasnya, tidak sadar bahwa itu piring yang salah.
Sesudah makan, Ratri menggelar berkasnya di meja. Ada formulir data diri, ada surat pernyataan, ada dua lembar yang harus ditandatangani di atas materai. Ia mengerjakannya sambil telungkup, kepala miring, rambut diikat asal dengan pulpen kedua.
Sarpin membawa kursinya mendekat dan duduk di belakangnya, agak ke samping, supaya tidak menghalangi cahaya.
"Nulisnya jangan buru-buru."
"Ini sudah pelan, Mbah."
"Itu nomornya kebalik."
Ratri melihat. Angka enam yang ia tulis memang lebih mirip nol yang bocor. Ia mencoretnya, lalu berhenti.
"Yah. Jadi jelek."
"Tidak apa-apa."
"Ini buat kantor, Mbah. Nanti dikira aku nggak bisa nulis."
Sarpin melihat kertas itu agak lama. Coretannya memang tebal, dan angka enam yang baru ditulis di sebelahnya berdesakan dengan angka berikutnya.
"Yang penting kebaca, Ndhuk," katanya. "Bagus itu urusan nanti."
Ratri tidak menjawab. Ia menulis terus sampai bawah.
Sarpin mengambil lembar yang sudah selesai, memutarnya ke arahnya sendiri, dan membacanya dari atas, menunjuk tiap baris dengan jari tanpa menyentuh kertasnya. Ia berhenti di kolom nama.
RATRI WULANDARI.
Ia membaca nama itu, lalu meletakkan kertasnya kembali persis di tempatnya semula, lurus dengan sisi meja.
"Materainya sudah?"
"Sudah beli dua."
"Tempelnya jangan kena tulisan. Nanti kalau kena tulisan dianggap nggak sah."
"Iya, aku tahu."
"Tanda tangannya kena separuh materai, separuh kertas."
Ratri berhenti menulis dan menoleh. "Mbah ini hafal banget."
"Ya tiap hari lihat orang salah."
Ia menempelkan materainya sendiri, hati-hati, di kotak yang disediakan, lalu menyodorkan pulpennya ke Ratri dan menunggu.
"Mbah dulu bikinin aku stempel," kata Ratri tiba-tiba.
"Kapan?"
"Waktu aku kelas dua. Kecil, bulat. Isinya cuma nama aku."
"Oh. Iya."
"Aku capin ke tembok kamar. Satu tembok penuh."
"Iya. Ibumu marah."
"Ibu marah tiga hari." Ratri tertawa. "Terus Mbah yang ngecat temboknya."
Sarpin tidak ikut tertawa, tapi ia berhenti mengupas kacang sebentar, dan itu bentuk lain dari hal yang sama.
Sore, Ratri menjelaskan pekerjaannya. Ia menjelaskannya dua kali karena yang pertama terlalu cepat.
"Jadi warga nggak usah antre di loket lagi, Mbah. Isinya lewat HP. Nanti aku yang bantu kalau ada yang bingung."
"Di dalam kantor?"
"Awalnya di kantor. Nanti keliling ke desa-desa juga, ada jadwalnya."
"Keliling sampai mana?"
"Semua desa di kecamatan. Empat belas."
Sarpin mengangguk. Ia sedang memikirkan hal lain: bahwa empat belas desa itu jauh, bahwa Ratri belum punya motor sendiri, bahwa jalan ke arah utara rusak sesudah jembatan.
"Naik apa?"
"Nebeng dulu sama Mbak Ida. Nanti kalau sudah tetap, aku nyicil motor."
"Jangan nyicil."
"Ya nanti dilihat, Mbah."
Yuni menyahut dari dapur. "Bapak itu nggak suka nyicil karena nggak pernah punya yang perlu dicicil."
"Kiosnya dulu nyicil," kata Sarpin.
"Tiga puluh empat tahun yang lalu, Pak."
"Ya nyicil."
Ratri keluar sesudah maghrib, ke rumah temannya, membawa map merahnya karena ada yang mau difotokopi.
Yuni menunggu sampai motor temannya terdengar menjauh baru bicara.
"Pak."
"Hm."
"Sekarang sehari dapat berapa?"
Sarpin sedang membetulkan engsel pintu dapur yang turun. Ia tidak berhenti.
"Ya macam-macam."
"Kemarin berapa?"
"Kemarin dua puluh empat ribu."
Yuni menaruh piring yang sedang ia lap. "Dua puluh empat ribu, Pak. Sehari."
"Kemarin sepi."
"Minggu lalu juga saya tanya, jawabnya juga sepi."
Sarpin memutar obeng dua kali lagi lalu mencoba pintunya. Masih turun. Ia mengendurkan sekrupnya dan memulai lagi dari awal.
"Bapak naikin dong harganya. Dua ribu lima ratus itu harga kapan?"
"Ya harga sekarang."
"Harga sekarang tukang stempel di pasar tujuh ribu."
"Yang di pasar pakai mesin komputer. Sekali cetak jadi sepuluh."
"Ya berarti Bapak juga—"
"Punya saya lebih awet."
Yuni tidak membantah bagian itu, karena memang benar, dan karena stempel di kantor kelurahan tempat suaminya dulu bekerja masih yang dibuat bapaknya tahun sembilan enam.
"Bukan soal awet, Pak."
"Terus soal apa."
Yuni membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Ia mengambil piring berikutnya.
"Nggak apa-apa," katanya. "Cuma nanya."
Sarpin mencoba pintunya lagi. Kali ini menutup rapat. Ia menekan daun pintunya sekali dengan telapak tangan untuk memastikan, lalu mengumpulkan sekrup yang tersisa ke dalam tutup botol dan menaruhnya di rak, di tempat sekrup itu selalu ditaruh.
"Ratri sudah dapat kerja," katanya, seperti menjawab sesuatu yang tidak ditanyakan.
"Iya. Alhamdulillah."
"Ya sudah."
Malamnya listrik padam sebentar, seperti biasa kalau hujan besar di daerah atas. Yuni menyalakan lilin dan menaruhnya di atas piring. Mereka duduk bertiga di ruang depan dan tidak melakukan apa-apa selama dua puluh menit, karena tidak ada yang bisa dikerjakan tanpa lampu.
"Mbah," kata Ratri di dalam gelap.
"Hm."
"Kalau nanti orang ngurus surat lewat HP, Mbah masih ada yang pesan stempel, kan?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja, seperti orang yang menanyakan cuaca.
"Ya ada," kata Sarpin. "Stempel itu bukan cuma buat surat pengantar. Ada koperasi, ada sekolah, ada toko. Ada yang buat nama sendiri."
"Oh. Iya, ya."
"Kemarin ada CV baru."
"Nah."
Lilin itu menetes ke piring dan membuat gundukan kecil di sisinya. Ratri mendorongnya dengan ujung kuku sampai patah, lalu menyusunnya lagi.
"Aku ada pelatihan hari Rabu," katanya. "Dari provinsi. Tiga hari."
"Bawa jaket."
"Iya."
"Di sana AC-nya kencang. Orang kantoran suka begitu."
"Iya, Mbah."
Yuni menyahut dari balik lilin. "Jaketnya yang biru dicuci belum?"
"Sudah, Bu."
"Ya sudah."
Tidak ada yang bicara lagi selama beberapa saat. Di luar, air dari talang jatuh ke ember yang sudah penuh dan mulai meluber ke tanah, bunyinya berubah dari nyaring jadi tumpul.
Sarpin bangun untuk memindahkan embernya. Ia melakukannya di dalam gelap, tanpa menyenter, karena ember itu selalu di situ.
Listrik menyala pukul sembilan. Yuni langsung berdiri dan menyalakan setrika lagi, karena delapan potong tadi belum selesai dan besok pagi harus diambil.
Sarpin masuk ke kamarnya, membuka lemari, dan mengeluarkan amplop cokelat tadi. Ia menghitung isinya di atas tempat tidur, pelan, dua kali, sambil menahan lembarannya dengan jari supaya tidak tertiup kipas.
Sesudah selesai ia memasukkannya kembali dan menaruh amplop itu di tempatnya, di bawah tumpukan kain, di sudut yang sama sejak istrinya masih ada.
Ia berbaring dan tidak langsung tidur. Dari ruang depan terdengar bunyi setrika dipindahkan, dan suara Ratri membaca sesuatu keras-keras untuk dihafal, mengulang kalimat yang sama tiga kali.
"...tidak perlu lagi datang ke kantor kecamatan. Cukup dari rumah."
"...tidak perlu lagi datang ke kantor kecamatan. Cukup dari rumah."
"...tidak perlu lagi datang ke kantor kecamatan. Cukup dari rumah."
Sarpin mendengarkannya sampai selesai. Ia berpikir cucunya menghafal dengan cara yang benar, sedikit demi sedikit, tidak sekaligus. Lalu ia tidur.