Di sebelah kanan kios Sarpin ada tukang fotokopi, namanya Mas Ipung, dan di sebelah kirinya ada tanah kosong selebar satu meter yang dipakai orang memarkir motor walaupun ada tulisan dilarang parkir yang ditulis Sarpin sendiri.
Mereka bertetangga sudah sebelas tahun dan tidak pernah bertengkar, karena pekerjaan mereka berpasangan. Orang datang ke Mas Ipung untuk menggandakan, lalu ke Sarpin untuk mengesahkan. Kadang Mas Ipung yang mengantar orangnya. "Ke sebelah dulu, Bu, baru balik ke sini."
Mesin fotokopi Mas Ipung berbunyi seperti orang bernapas berat. Kalau mesinnya berhenti berbunyi, Sarpin tahu sedang ganti toner, dan sepuluh menit berikutnya tidak akan ada orang datang.
Hari Selasa itu mesinnya berbunyi terus sampai siang, tapi tidak ada yang menyeberang ke kios Sarpin.
Ia mengerjakan yang bisa dikerjakan. Ia mengeluarkan kotak huruf timah dan memeriksanya sekat demi sekat, mencari huruf yang aus. Huruf E paling cepat aus, lalu A, lalu N. Huruf Q hampir tidak pernah dipakai dan masih tajam seperti waktu dibeli.
Ia menemukan tiga huruf E yang sudah tumpul di kaki. Ia menaruhnya di sisi meja untuk diganti nanti kalau ada rezeki.
Lalu ia membuka buku catatan.
Buku itu bersampul karton, sudah yang kelima, dan yang keempat masih disimpan di rumah di dalam kardus. Di dalamnya ia menulis tiap pesanan: tanggal, nama, isi stempel, harga. Tulisannya kecil dan miring ke kanan, satu baris satu pesanan.
Ia membalik ke halaman bulan lalu dan menghitung barisnya dengan ujung pensil. Empat puluh satu.
Lalu ia membalik ke bulan sebelumnya. Lima puluh sembilan.
Lalu ke bulan sebelumnya lagi, yang sudah agak jauh. Enam puluh tiga.
Ia menghitung ulang yang empat puluh satu, karena ada satu baris yang ditulis di bawah garis dan hampir terlewat. Tetap empat puluh satu.
Ia menutup bukunya dan memasukkannya ke laci.
Bulan Juli tahun lalu ada delapan puluh dua. Itu ia ingat tanpa perlu membuka yang keempat.
Sekitar pukul sebelas datang seorang perempuan tua diantar anaknya naik motor. Anaknya menunggu di motor, tidak mematikan mesin.
Perempuan itu membawa stempel lama di dalam sapu tangan. Ia membukanya di meja seperti orang membuka bungkus obat.
Gagangnya kayu, sudah gelap kena keringat, dan karetnya sudah retak di tiga tempat sehingga huruf N-nya tinggal separuh.
"Ini bisa diperbaiki, Pak?"
Sarpin mengambilnya, membaliknya, menekan ibu jarinya ke permukaan karet.
"Karetnya sudah tua. Kalau ditambal nanti bekas tambalannya ikut kecetak."
"Oh."
"Tapi gagangnya masih bagus. Ini kayu sawo. Sekarang sudah jarang."
"Berarti bagaimana?"
"Karetnya saya ganti baru, gagangnya yang ini dipakai lagi. Tulisannya sama persis?"
"Sama persis. Punya suami saya."
Sarpin membaca tulisan di karet yang retak itu, mengeja pelan, lalu menyalinnya ke buku tulis bergaris. Ia menyalin juga letak titiknya, dan garis kecil di bawah baris kedua yang mungkin cuma cacat cetakan, tapi mungkin juga bukan.
"Garis ini ikut?"
Perempuan itu melihat lama.
"Ikut," katanya. "Itu memang dari dulu."
Suara motor di luar meninggi sebentar, lalu turun lagi.
"Besok siang jadi, Bu."
"Berapa?"
"Sepuluh ribu. Gagangnya tidak dihitung, wong sudah punya sendiri."
Sesudah perempuan itu pergi, Sarpin menaruh stempel yang retak itu di meja, bukan di kaleng, karena itu bukan miliknya.
Ratri datang pukul dua, masih memakai seragam kerjanya, kemeja putih dengan papan nama plastik yang dijepit di saku. Ia menunduk masuk karena pintu kios lebih pendek daripada dia.
"Mbah."
"Lho."
"Istirahat siang. Masih ada dua puluh menit."
Ia duduk di peti kayu di sudut, peti tempat karet mentah disimpan, yang tutupnya sudah cekung di tengah karena selalu diduduki orang yang sama sejak orang itu masih kelas satu.
Dulu Ratri mengerjakan PR di peti itu. Yuni bekerja sampai sore dan tidak ada yang menjaganya di rumah, jadi sepulang sekolah ia jalan kaki ke kios, membuka buku di atas lututnya, dan mengerjakan penjumlahan sambil mendengar mesin press berdenting.
Bau karet hangus itu masuk ke seragamnya dan terbawa pulang. Ibunya pernah mengeluh baju sekolahnya bau. Ratri tidak pernah mengeluh.
"Mbah lagi ngapain?"
"Ganti huruf E."
"Boleh lihat?"
Sarpin mendorong kotak huruf itu ke arahnya. Ratri mengambil satu dengan pinset, mengangkatnya ke cahaya, memutarnya.
"Ini kebalik semua, ya."
"Harus kebalik. Kalau tidak kebalik, nanti hasilnya yang kebalik."
"Iya, aku tahu. Cuma tiap lihat tetap aneh."
Ia mengembalikannya ke sekat yang benar tanpa perlu ditunjukkan.
Mesin press masih hangat dari pesanan pagi. Ratri menempelkan punggung tangannya ke badan mesin, sebentar, lalu menariknya.
"Masih panas."
"Ya baru dimatikan."
Ia mencium tangannya sendiri, lalu tertawa kecil.
"Bau."
"Ya bau."
"Aku dulu dimarahi Bu Guru gara-gara ini. Katanya aku bau karet."
"Terus?"
"Terus aku bilang, itu bau kerjaan Mbah saya."
Sarpin tidak menjawab. Ia mengambil sapu kecil dan membersihkan serpihan timah dari meja, ke arah dirinya sendiri, bukan ke arah Ratri.
"Bagaimana di kantor?" tanyanya kemudian.
"Ramai. Kemarin ada tujuh puluh orang."
"Tujuh puluh?"
"Sebagian cuma nanya. Belum semua punya HP yang bisa."
"Yang tidak punya bagaimana?"
"Ada komputer di pojok, dua. Nanti ditambah." Ratri membuka botol minumnya dan minum sedikit. "Yang repot itu yang punya HP tapi lupa PIN-nya. Itu banyak."
"Terus?"
"Ya diurus. Harus ke kantor lagi bawa KTP."
"Berarti tetap ke kantor."
"Iya, tapi cuma sekali. Habis itu tidak lagi."
Sarpin mengangguk. Ia sedang memindahkan huruf E yang tumpul ke dalam amplop kecil supaya tidak tercampur.
"Mbah."
"Hm."
"Ini sepi banget, ya."
Sarpin tidak berhenti bekerja. "Hari Selasa memang begitu."
"Kemarin Senin juga sepi. Aku lewat."
"Kemarin hujan."
Ratri melihat ke luar, ke trotoar, ke dua kursi plastik yang kosong dua-duanya.
Sesudah beberapa saat ia berkata, "Nanti kalau aku sudah gajian, aku bantu."
"Bantu apa?"
"Ya bantu."
"Tidak usah."
"Mbah—"
"Kamu itu baru mulai. Uang pertama jangan dikasihkan ke orang tua. Ditabung."
"Bukan orang tua. Mbah."
"Sama saja."
Ratri diam. Ia menyapu serpihan yang tertinggal di peti dengan telapak tangannya, lalu menuangkannya ke kaleng Khong Guan, karena itu yang selalu dilakukan orang di kios ini.
Waktu istirahatnya habis. Ia berdiri, membetulkan papan namanya, dan menunduk lagi di pintu.
"Mbah, Rabu aku pelatihan."
"Iya, sudah bilang."
"Aku pamit sekarang, ya, takut lupa."
"Ya."
Ia sudah setengah keluar ketika berbalik.
"Mbah, kalau ada yang tanya soal stempel di kantor, aku suruh ke sini, ya?"
"Ya."
"Beneran, lho. Aku suruh ke sini."
"Ya."
Ratri pergi. Sarpin melihat punggungnya sampai menyeberang, lalu duduk lagi.
Sekitar pukul empat Pak Darto datang, dan kali ini ia membawa map.
Itu yang pertama kali dilihat Sarpin: mapnya. Selama tiga puluh tahun Pak Darto tidak pernah membawa map ke kios ini.
"Sar."
"Duduk."
Pak Darto duduk. Ia meletakkan mapnya di atas paha, tidak di meja.
"Bantalan tintanya sudah saya isi," kata Sarpin. "Ada di rumah. Besok saya bawakan."
"Oh. Iya. Terima kasih."
Sarpin menuangkan air ke gelas dan menaruhnya di sisi yang menghadap kursi biru.
Pak Darto tidak mengambilnya.
"Sar, yang stempel kantor," katanya. "Yang lingkaran besar itu."
"Yang perlu diganti? Sudah waktunya memang. Yang sekarang sudah delapan tahun."
"Iya. Diganti."
"Bawa contoh capnya, nanti saya ukur dari yang lama supaya sama persis. Dua hari jadi."
Pak Darto memutar gelasnya sekali, lalu berhenti.
"Sudah dipesan, Sar."
Sarpin masih memegang amplop berisi tiga huruf E. Ia meletakkannya di meja.
"Dipesan di mana?"
"Di Semarang. Satu paket sama yang lain-lain. Ada dua puluh delapan kantor sekecamatan, dipesan sekaligus dari sana."
"Oh."
"Bukan saya yang mesan. Dari atas sudah ditentukan."
"Iya."
"Katanya harus sama semua. Ukurannya, hurufnya, ada nomor serinya di pinggir. Biar cocok sama yang di sistem."
"Iya."
Mereka tidak bicara selama beberapa saat. Mesin fotokopi di sebelah berbunyi, berhenti, lalu berbunyi lagi.
"Berapa lama jadinya?" tanya Sarpin akhirnya.
"Belum tahu. Katanya bulan depan."
"Bulan depan itu lama untuk dua puluh delapan stempel."
"Iya."
Pak Darto mengangkat gelasnya, meminumnya sampai habis, dan meletakkannya kembali.
"Sar, saya sudah bilang ke Pak Camat. Saya bilang di depan kantor ada yang bikin, sudah lama, hasilnya bagus."
"Terus?"
"Terus ya sudah."
Sarpin mengangguk.
"Nomor serinya itu buat apa?"
"Katanya biar bisa dicocokkan. Tiap stempel ada nomornya, terdaftar di sistem. Jadi kalau ada yang memalsukan, ketahuan."
"Selama ini juga ketahuan."
"Ketahuan bagaimana?"
"Ya kelihatan." Sarpin mengambil stempel retak milik perempuan tadi dari meja dan meletakkannya kembali dengan sisi lain menghadap atas. "Tiap orang yang bikin punya tangan sendiri. Jarak hurufnya, dalamnya potongan. Saya lihat cap, saya tahu itu bikinan siapa."
Pak Darto memandangi stempel itu.
"Yang di Semarang bisa begitu juga?"
"Yang di Semarang mesin. Mesin tidak punya tangan."
Pak Darto membuka mulutnya, lalu tidak jadi.
"Airnya mau tambah?"
"Tidak. Sudah."
Pak Darto berdiri, memegang mapnya dengan dua tangan, dan berdiri sebentar lebih lama dari yang perlu.
"Besok saya ke sini lagi," katanya.
"Iya."
Sesudah Pak Darto pergi, Sarpin mengerjakan stempel milik perempuan tua tadi, walaupun baru besok siang dijanjikan.
Ia menyusun hurufnya, memanaskan mesinnya, memotong karetnya. Waktu memasang gagang lama ke karet baru, ia mengamplas dulu permukaan kayunya supaya lemnya menggigit, pelan-pelan, memutar, sampai debu kayu sawo itu menempel di ujung jarinya dan baunya keluar — manis, agak asam, sama sekali lain dari bau karet.
Sesudah kering, ia mencapnya ke kertas. Garis kecil di bawah baris kedua itu ikut tercetak, persis di tempatnya.
Ia menaruhnya di rak, dibungkus koran, dan menulis nama perempuan itu di luarnya.
Lalu ia membuka laci dan mengeluarkan buku catatannya lagi. Ia membalik ke halaman kosong berikutnya, menulis tanggal di pinggir kiri seperti biasa, lalu berhenti karena tidak ada yang perlu ditulis di sebelahnya.
Ia menutup bukunya.
Pukul lima ia mengangkat dua kursi masuk. Yang biru kakinya bergeser lagi, dan ia membetulkannya, walaupun besok akan bergeser lagi.