Yang pertama dikerjakan Sarpin setiap pagi bukan membuka kiosnya, melainkan mengeluarkan kursi plastik untuk orang lain.
Dua kursi. Satu hijau, satu biru yang kakinya sudah disambung kawat. Ia menaruhnya di bawah tritisan seng, menghadap pintu kantor kecamatan, supaya orang yang menunggu antrean punya tempat duduk yang tidak kena matahari. Dulu kursinya empat. Dua hilang, dan ia tidak pernah menanyakannya kepada siapa pun.
Baru sesudah itu ia membuka gembok.
Kiosnya dua kali dua meter, kayu, dicat biru muda yang sekarang lebih dekat ke kelabu. Di atas pintu ada papan bertuliskan STEMPEL KILAT — SARPIN. Huruf-hurufnya ia potong sendiri dari tripleks tiga puluh empat tahun lalu. Huruf S yang pertama sudah miring ke kanan sejak lama dan ia tidak meluruskannya.
Di dalam: meja selebar satu meter, kursi kayu tanpa sandaran, satu bohlam yang menyala walau siang, dan mesin press panas yang ia beli tahun sembilan puluh delapan dari orang Pekalongan. Mesin itu berat empat belas kilo. Tiap kali kiosnya harus digeser, dua orang mengangkatnya dan Sarpin berjalan di samping sambil memegangi tuasnya supaya tidak jatuh.
Di rak bawah meja ada kaleng biskuit Khong Guan.
Kaleng itu bukan untuk biskuit. Di dalamnya ada stempel-stempel yang tidak pernah diambil orang. Ada yang salah huruf, dibuat ulang, dan yang salah tidak dibuang. Ada yang benar tapi pemesannya tidak kembali. Yuni pernah menghitungnya sekali waktu masih SMP dan berhenti di angka enam puluh. Waktu itu ia bertanya kenapa tidak dibuang saja.
"Suatu saat ada yang datang menanyakannya," kata Sarpin.
Tidak pernah ada yang datang menanyakannya. Kaleng itu tetap di sana.
Pelanggan pertama hari itu datang setengah delapan, laki-laki muda, kemeja dimasukkan, membawa map plastik. Ia berdiri di depan kios dan tidak duduk di kursi.
"Pak, bikin stempel bisa jadi hari ini?"
"Bisa. Tulisannya apa?"
Laki-laki itu membuka map, mengeluarkan selembar kertas, dan menyodorkannya. Sarpin membacanya dua kali. Lalu ia mengambil buku tulis bergaris dari laci dan menyalin tulisan itu dengan pensil, huruf demi huruf, sambil mengejanya pelan.
"CV. Berkah Tani Sejahtera," katanya. "Pakai titik sesudah CV?"
"Pakai, Pak."
"Alamatnya ikut?"
Laki-laki itu berpikir sebentar. "Tidak usah. Nanti kalau pindah kantor jadi salah."
Sarpin mengangguk. Ia menulis di bawah salinannya: tanpa alamat. Digarisbawahi.
"Dua ribu lima ratus per baris," katanya. "Ini dua baris. Lima ribu. Sama gagangnya jadi dua belas ribu."
Laki-laki itu tidak menawar. Orang-orang jarang menawar di kios ini, bukan karena harganya pantas, tapi karena angkanya terlalu kecil untuk ditawar.
Sarpin membuka kotak kayu bersekat-sekat di sisi kanan meja. Di tiap sekat ada huruf timah, terbalik, disusun berdiri seperti gigi. Ia mengambil pinset dan mulai memungut huruf satu per satu: C, V, titik, spasi, B, E, R, K, A, H. Ia menyusunnya di dalam bingkai logam kecil, dari kanan ke kiri, karena yang tercetak nanti kebalikan dari yang ia lihat sekarang.
Tangannya bekerja tanpa ia harus melihat kotaknya. Sekat huruf A ada di pojok kiri atas dan sudah tiga puluh empat tahun ada di situ.
Sesudah dua baris tersusun, ia menjepit bingkainya, mengunci baut sampingnya, lalu meletakkannya di atas plat mesin press. Ia menekan sakelar. Lampu kecil di badan mesin menyala jingga.
"Sepuluh menit dulu, Mas. Duduk saja."
Laki-laki itu duduk di kursi hijau.
Sementara menunggu, Sarpin mengambil lembar karet mentah dari bawah meja, menggelarnya, dan memotongnya dengan silet menjadi persegi sedikit lebih besar dari bingkai. Sisa potongannya ia kumpulkan dan masukkan ke kaleng Khong Guan.
Mesin berbunyi klik. Ia mengangkat tuas, memasukkan matras, menurunkan tuas kembali, dan menekan sampai tuasnya menyentuh meja. Bau karet hangus keluar dari sela-sela plat, tipis dan manis, bau yang di kios ini sama biasanya dengan bau kopi di warung.
Laki-laki muda itu menutup hidungnya sebentar dengan punggung tangan, lalu menurunkannya lagi karena malu.
Sarpin tidak melihat. Ia sedang menghitung dalam hati.
Sesudah karet dilepas dan didinginkan, ia memotong pinggirnya, menempelkannya ke gagang kayu dengan lem, lalu mengambil bantalan tinta dari laci. Ia menekan stempel yang baru jadi itu ke bantalan, dua kali, sekali di kiri sekali di kanan.
Lalu ia mengangkatnya ke dekat mulut dan meniupnya. Sekali, pendek.
Ia menekannya ke selembar kertas bekas.
CV. BERKAH TANI SEJAHTERA. Hurufnya penuh, tidak ada yang tipis, tidak ada yang berbayang di tepi.
Ia memutar kertas itu dan mendorongnya ke arah laki-laki muda tadi. "Coba dilihat. Kalau ada yang salah sekarang masih bisa."
Laki-laki itu membaca, mengangguk, membayar, dan pergi tanpa membawa kertas bekasnya.
Sarpin melipat kertas itu dan menyimpannya di laci.
Pukul sembilan trotoar sudah ramai. Tukang es dawet mendorong gerobaknya ke ujung, di tempat yang sama setiap hari, karena di situ ada bayangan pohon sampai pukul sebelas. Perempuan-perempuan yang menunggu antrean berdiri berkelompok dan berbicara tentang harga telur. Motor diparkir dua lapis sampai ke mulut gang.
Bu Tarmi datang pukul sepuluh, membawa kantong kresek berisi kertas.
Ia tidak memesan stempel. Ia tidak pernah memesan stempel.
"Pak Sarpin, ini disuruh isi."
Sarpin menerima kertasnya. Formulir permohonan, satu halaman, kotak-kotak kecil untuk huruf. Ia membalikkannya. Bagian belakang juga ada isiannya.
"Sudah dibawa KK-nya?"
Bu Tarmi mengeluarkan kartu keluarga yang dilipat sampai lunak di garis lipatannya. Sarpin membukanya pelan supaya tidak sobek di tengah.
Ia mengambil pulpen, meletakkan formulir di atas meja, dan mulai mengisi. Satu huruf satu kotak. Ia menulis dengan huruf balok, tegak, sedikit lebih besar dari kotaknya sehingga hurufnya menyentuh garis di kiri dan kanan.
"Ibu lahirnya empat puluh sembilan?"
"Kata Bapak saya begitu."
"Di sini ditulis empat puluh sembilan, ya. Sama seperti di kartu."
Ia mengisi sampai bawah, lalu membaca ulang dari atas, menunjuk tiap baris dengan ujung pulpen tanpa menyuarakannya. Di kolom terakhir ada tempat untuk tanda tangan.
"Ibu tanda tangan di sini."
Bu Tarmi memegang pulpen seperti orang memegang sendok. Ia menggambar tiga huruf yang saling menempel, lalu berhenti, lalu menambahkan satu garis panjang di bawahnya.
Sarpin melihat hasilnya.
"Sudah," katanya. "Bagus."
Ia melipat formulir itu dua kali dan memasukkannya kembali ke kresek bersama kartu keluarga, di sebelah dalam, supaya tidak tertiup.
"Berapa, Pak?"
"Tidak ada. Saya cuma nulis."
Bu Tarmi tetap meletakkan dua ribu di meja, di sudut, di bawah bantalan tinta, dan pergi sebelum Sarpin sempat mengembalikannya. Uang itu tinggal di situ sampai sore.
Menjelang siang Pak Darto datang. Pak Darto sudah tiga puluh tahun bekerja di kecamatan dan sudah dua kali pensiun ditunda. Ia tidak pernah membawa map. Ia membawa kertas dilipat empat di saku kemejanya.
"Sar," katanya, dan duduk di kursi biru tanpa dipersilakan. "Yang buat pengantar nikah, tintanya kok cepat kering, ya."
"Bantalannya yang kering, bukan tintanya. Bawa sini, saya isi."
"Besok saja. Ini saya cuma lewat."
Pak Darto tidak lewat. Kalau lewat, ia tidak akan duduk. Sarpin menuangkan air dari termos ke satu gelas dan meletakkannya di meja, di sisi yang menghadap kursi biru.
Mereka tidak bicara selama beberapa saat. Dari dalam kantor terdengar suara nomor antrean dipanggil, dua kali, lalu berhenti.
"Nanti bulan depan ada yang baru," kata Pak Darto akhirnya.
"Yang baru apa?"
"Sistem. Dari pusat." Pak Darto memutar gelasnya di meja tanpa mengangkatnya. "Sudah dua kali rapat. Saya juga belum paham betul."
"Kalau saya harus bikin stempel baru, bilang dari sekarang. Timahnya kadang harus pesan."
Pak Darto tertawa pendek, satu kali, lalu berhenti. "Iya. Nanti saya bilang."
Ia menghabiskan airnya, meletakkan gelasnya kembali dengan hati-hati, dan pergi.
Sore, sebelum tutup, Sarpin mengerjakan pesanan terakhir: stempel nama untuk seorang ibu guru SD yang lelah menulis namanya sendiri di lembar-lembar ulangan. Nama itu panjang. Tiga baris.
Ia mengerjakannya lebih lama dari yang perlu.
Baris pertama nama depan, baris kedua nama belakang, baris ketiga NIP dan angka-angkanya. Sesudah tersusun, ia melihatnya dari samping, membongkarnya lagi, dan menyusun ulang baris ketiga supaya jaraknya sedikit lebih longgar dari dua baris di atasnya. Ibu guru itu tidak memintanya. Ibu guru itu tidak akan tahu.
Tapi nanti stempel ini akan ditekan tiga ratus kali dalam satu minggu ujian, dan angka yang berdesakan akan menghitam di tengahnya sesudah cap yang kelima puluh.
Sesudah selesai, ia meniupnya, mencapnya ke kertas, memeriksanya di bawah bohlam, dan membungkusnya dengan kertas koran. Di luar bungkusnya ia menulis nama ibu guru itu dengan spidol, walaupun besok pagi hanya ada satu bungkusan di meja dan tidak mungkin tertukar.
Pukul lima ia mengangkat dua kursi plastik masuk. Ia menyapu lantai kios dengan sapu ijuk pendek, mengumpulkan potongan karet dan serpihan timah ke telapak tangannya, lalu menuangnya ke kaleng Khong Guan. Ia menutup kalengnya dan mendorongnya ke rak bawah dengan ujung sepatu.
Ia mengunci gembok, menariknya sekali untuk memastikan, lalu berjalan ke arah pintu kantor kecamatan karena jalan pulangnya memang lewat situ.
Di pintu kaca itu ada kertas baru. Dicetak, bukan tulisan tangan. Ditempel dengan selotip di keempat sudutnya, rapi, oleh orang yang punya waktu untuk merapikan.
Sarpin berhenti. Ia mengeluarkan kacamatanya dari saku kemeja dan memakainya.
Ia membaca dari atas. Ada nomor surat, ada nama kementerian, ada dua alinea yang kalimatnya panjang-panjang. Di tengahnya ada satu baris yang dicetak tebal, dan itu yang ia baca dua kali.
MULAI 1 SEPTEMBER, SURAT PENGANTAR DAPAT DIURUS DARING.
Di bawahnya ada gambar kotak hitam putih berbentuk persegi, penuh titik-titik kecil, seperti kain yang dilihat terlalu dekat.
Sarpin melihat gambar itu agak lama. Ia tidak tahu itu apa.
Ia melepas kacamatanya, memasukkannya kembali ke saku, dan pulang. Di jalan ia teringat bahwa bantalan tinta Pak Darto belum ia isi, dan besok Pak Darto tidak akan datang karena hari Minggu.