Termos itu biru, warnanya sudah pudar jadi kelabu di bagian yang sering dipegang. Tutupnya penyok di satu sisi, cekungan sebesar ibu jari, dan karena penyok itu kalau diputar terlalu kencang ia macet. Cara membukanya harus miring sedikit ke kiri dulu.
Semua orang di rumah itu tahu caranya. Tidak ada yang pernah mengajarkan.
Ningsih mengisinya tiap pagi pukul lima. Teh tubruk, gula dua sendok, air dari cerek yang baru mendidih. Ia menuang pelan supaya tidak muncrat, lalu memutar tutupnya miring ke kiri dulu, baru kencang.
Rara menuang segelas sebelum berangkat. Bu Tarmi, kalau datang membantu, menuang sendiri tanpa permisi karena sudah dua puluh tahun begitu. Sore hari kalau ada yang tersisa, Ningsih membuangnya ke pot melati di teras. Melati itu tumbuh subur.
Tidak ada yang pernah menyebut termos itu milik siapa.
Bu Tarmi pernah menyinggungnya sekali, tahun ketiga sesudah Darmaji pergi. Waktu itu ia sedang menuang dan tutupnya macet.
"Termosnya masih yang itu?"
"Masih."
Bu Tarmi memutar tutupnya miring ke kiri, dan terbuka, dan ia menuang. Sesudah itu tidak pernah ada yang menyinggung lagi, dan Bu Tarmi selalu membukanya miring ke kiri.
Tahun enam belas gang itu kebanjiran. Air masuk sampai selutut dan bertahan dua hari. Yang diselamatkan Ningsih ke lantai atas ada tiga: map cokelat berisi surat-surat, mesin jahit, dan termos itu.
Rara lima belas tahun waktu itu. Dialah yang membawa termosnya naik, dipeluk dengan dua tangan karena tangganya licin. Ia tidak bertanya kenapa termos. Ia cuma membawanya.
Sesudah air surut, banyak barang dibuang. Kasur, dua kursi, karpet yang tidak pernah kering lagi. Termos itu dicuci dengan air panas dan dikembalikan ke meja.
Pagi-pagi, sebelum Rara turun, Ningsih menuang segelas untuk dirinya sendiri. Ia meminumnya sambil berdiri di depan kompor, dua atau tiga teguk, lalu meletakkan gelasnya di bak cuci.
Ia tidak pernah duduk waktu minum teh pagi. Bukan karena tidak sempat. Ia sudah tidak bisa lagi.
Ada satu kursi di meja itu yang paling dekat ke dapur, yang punggungnya menghadap jendela. Ningsih duduk di kursi seberangnya, kalau ia duduk. Rara di sebelah kiri. Kursi yang dekat dapur itu dipakai untuk menaruh barang: tumpukan kotak nasi, kantong plastik, kadang tas Rara.
Tidak pernah kosong, dan tidak pernah diduduki.
Pukul setengah delapan Rara mengunci pintu depan dan menyerahkan kuncinya ke ibunya lewat jendela dapur, seperti tiap pagi, karena pintu itu cuma punya satu kunci dan sudah begitu sejak dulu.
"Sudah makan?"
"Sudah, Bu."
Ia belum. Tapi jawabannya begitu tiap pagi dan ibunya tahu, dan mereka berdua membiarkannya.
Kantor cabang itu ada di jalan besar, di antara toko emas dan bengkel motor. Rara bekerja di meja kedua dari kiri, menghadap pintu, jadi ia orang pertama yang dilihat orang yang masuk.
Ia bagus dalam pekerjaannya. Bukan karena pintar berhitung, tapi karena orang-orang tua yang datang membawa buku tabungan lusuh merasa tenang di dekatnya. Ia tidak terburu-buru. Ia mengulang penjelasan tanpa mengubah nada suaranya. Kalau ada ibu-ibu yang salah mengisi slip untuk ketiga kalinya, ia mengambil slip baru dan mengisikannya sendiri, lalu menyodorkannya untuk ditandatangani.
Dewi yang duduk di meja ketiga pernah bilang, kamu tuh sabar banget, Ra.
Rara bilang biasa aja.
Pukul sebelas Pak Hendra memanggilnya ke ruangan. Bukan hal besar; pintunya dibiarkan terbuka.
"Yang Surabaya itu gimana, Ra?"
"Masih saya pikirkan, Pak."
Pak Hendra mengangguk. Ia mengetuk-ngetuk pulpennya dua kali di atas meja, lalu berhenti karena sadar sedang melakukannya.
"Ini yang keempat, lho."
"Iya, Pak."
"Nggak apa-apa. Cuma, kuotanya ditutup akhir bulan ini. Habis itu nggak tahu kapan lagi."
"Iya, Pak."
Ia kembali ke mejanya. Nasabah berikutnya sudah menunggu, seorang bapak yang mau mengurus ATM tertelan mesin. Rara mengambil formulir yang benar dari laci, dan tangannya tidak gemetar sama sekali.
Makan siang ia habiskan di mushola lantai dua, duduk di lantai dengan punggung ke dinding. Nasi bungkus dari warung depan, lauknya telur dadar. Ia makan cepat.
Ia berumur sembilan belas waktu telepon rumah berbunyi di suatu sore dan ia yang mengangkat. Suara laki-laki. Menanyakan Ningsih. Waktu Rara bertanya ini siapa, sambungannya ditutup.
Ia berdiri memegang gagang telepon itu cukup lama. Lalu ia meletakkannya dan tidak bertanya apa-apa kepada siapa pun, tidak hari itu dan tidak sesudahnya.
Yang ia lakukan sesudahnya cuma satu: ia mulai mengangkat telepon lebih dulu. Selama lima tahun, tiap kali telepon rumah berbunyi dan ia ada di rumah, ia yang mengangkat. Ibunya mengira itu kebiasaan.
Pukul dua siang datang seorang perempuan tua dengan kebaya dan tas anyaman. Ia mau menutup rekening. Suaminya meninggal bulan lalu dan uang di dalamnya tinggal seratus tiga puluh ribu.
Rara meminta surat kematiannya. Perempuan itu mengeluarkannya dari tas, terlipat empat, sudah lunak di lipatannya karena sering dibuka.
"Ini asli, Mbak? Soalnya cuma ada ini."
"Asli, Bu. Ini yang benar."
Ia mengetik nomornya. Nama di layar muncul, lengkap dengan tanggal lahir tahun lima puluhan. Rara membaca nama itu sekali, lalu mengalihkan pandangan ke keyboard dan meneruskan.
"Bukunya nanti gimana, Mbak? Dibawa pulang boleh?"
Sebenarnya buku tabungan yang ditutup harus digunting sudutnya dan disimpan. Rara menggunting sudutnya, lalu menyerahkannya kembali.
"Boleh, Bu. Bawa saja."
Perempuan itu memasukkannya ke tas anyaman, di bawah surat kematian yang terlipat empat. Ia mengucapkan terima kasih tiga kali, dan yang ketiga waktu sudah berdiri di pintu.
Di pintu ia berhenti, seperti orang yang lupa sesuatu, lalu kembali ke meja Rara.
"Mbak, kalau bukunya sudah digunting begini, masih bisa dipakai lagi nggak?"
"Nggak bisa, Bu."
"Oh." Ia memasukkannya lagi ke tas. "Nggak apa-apa. Buat kenang-kenangan."
Rara menyelesaikan berkasnya. Ia menuliskan tanggal, membubuhkan paraf, memasukkannya ke map hijau untuk arsip sore. Semuanya rapi. Tidak ada yang salah satu pun.
Dewi bertanya kenapa dia yang selalu kebagian yang begitu.
"Kebetulan aja."
"Kamu nggak capek, Ra?"
"Nggak."
Pukul empat Dewi mengajak makan bakso sesudah tutup, ada yang baru buka di dekat pasar, katanya enak. Rara bilang tidak bisa, ada pesanan katering besok, ibunya sendirian.
"Ya udah, kapan-kapan."
"Kapan-kapan."
Mereka berdua tahu kapan-kapan itu artinya tidak.
Perjalanan pulang dua puluh menit naik motor, lewat jalan yang sama tiap hari. Ada satu titik, sesudah jembatan kecil, di mana bau sawah tiba-tiba masuk ke helm. Rara selalu memperlambat sedikit di situ. Bukan karena apa-apa.
Di rumah, dapur sudah dimulai. Delapan puluh kotak untuk Jogonalan, dan ingkung dua ekor yang sudah direbus setengah matang, dagingnya masih putih.
"Yang selamatan itu ya, Bu?"
"Iya."
"Empat puluh hari."
"Katanya begitu."
Rara mengambil sarung tangan. Ia mulai dari bumbu, karena ingkung harus diungkep semalaman kalau mau empuk.
Kedua ingkung itu tergeletak di nampan, kakinya sudah diikat ke dada dengan tali rafia, rapi dan simetris. Ningsih mengikatnya dengan cara tertentu: dua putaran di pergelangan, satu silang di dada, simpul di punggung supaya tidak kelihatan.
"Ibu belajar ikat begitu dari siapa?"
"Ya belajar sendiri."
Rara mengangguk dan tidak melanjutkan. Ia sudah tahu jawabannya akan begitu sebelum bertanya, dan ia bertanya juga.
Ada hal yang ia ingin tanyakan, dan ia menyusun kalimatnya di kepala sambil menumbuk. Kalimat itu sederhana. Cuma enam kata.
Ia menumbuk lebih lama dari yang diperlukan, sampai bumbunya terlalu halus.
"Sudah, Ra. Kehalusan nanti."
"Iya."
Kalimat itu tetap di kepalanya sampai pukul sepuluh malam, waktu ia naik ke kamarnya dan menutup pintu, dan sesudah itu ia tidak memikirkannya lagi sampai besok.
Sebelum tidur ia turun sekali lagi untuk minum. Lampu dapur sudah dimatikan, tapi lampu penanak nasi masih menyala kecil di sudut, cukup untuk melihat jalan.
Termos itu ada di meja, terisi penuh, tutupnya sudah rapat.
Rara menuang setengah gelas dan meminumnya berdiri, sama seperti ibunya. Tehnya terlalu manis. Dua sendok memang terlalu manis untuknya dan selalu begitu sejak dulu, dan ia tidak pernah minta dikurangi.
Ia pulang pukul enam. Lampu dapur sudah menyala, yang ujungnya berkedip itu.
Di ponselnya ada percakapan dengan Mas Bayu. Kalau digulung ke atas, isinya sedikit sekali untuk delapan tahun.
Selamat ulang tahun mas. Makasih Ra. Kirim alamat kos yang baru dong. Nanti ya. Foto kotak katering ibu yang seratus dua puluh. Wah banyak. Iya.
Pesan terakhir tiga bulan lalu, tentang harga tiket kereta.
Ada beberapa kali Rara mengetik yang panjang. Ia menulisnya sampai selesai, membacanya, lalu menghapusnya huruf demi huruf sampai kolomnya kosong lagi. Ia tidak pernah menghapusnya sekaligus dengan menahan tombol. Selalu satu-satu.
Delapan bulan lalu ia sempat mengirim satu kata sebelum sempat berpikir.
Mas.
Dua menit kemudian: Kenapa Ra.
Ia menatap layar itu cukup lama sampai tanda mengetik di atas muncul dan hilang, muncul dan hilang, tiga kali.
Nggak jadi.
Oh. Ya udah.
Sesudah itu tidak ada yang menyinggungnya lagi. Tapi Rara memperhatikan bahwa sejak malam itu, kalau Mas Bayu menelepon ibunya hari Minggu dan Rara kebetulan ada di dekat situ, teleponnya jadi lebih pendek.
Di meja, termos biru berdiri di tempatnya yang biasa, di sebelah toples gula.
Rara memegangnya. Dingin.
Ia membuka tutupnya, miring ke kiri dulu baru diputar, dan menuang isinya ke wastafel. Tehnya sudah menghitam. Lalu ia menjerang air baru, menakar teh, menakar gula dua sendok, dan mengisinya lagi sampai hampir penuh.
Ningsih melihat dari pintu kamar mandi, membawa ember. Ia tidak berkata apa-apa. Rara juga tidak.
Rara memutar tutupnya. Terlalu kencang, dan tutup itu macet, dan ia harus mengetuknya dua kali di pinggir meja sebelum bisa lepas lagi.
Cekungan sebesar ibu jari itu pas betul dengan ibu jarinya. Selalu begitu, seumur hidupnya, dan ia tidak pernah sekali pun bertanya kenapa.