Penanak nasi itu berbunyi klik pukul empat kurang seperempat, dan Ningsih tidak perlu menoleh untuk tahu tombolnya sudah pindah sendiri ke hangat.
Ia sedang memotong bawang di bawah lampu neon yang salah satu ujungnya berkedip. Kedipannya sudah tiga bulan begitu. Rara pernah menawarkan diri membelikan yang baru, dan Ningsih bilang nanti saja, dan nanti itu belum datang.
Pesanan hari ini seratus dua puluh kotak. Nasi kuning, ayam ungkep, mi goreng, telur balado, kerupuk. Sebuah kantor di Klaten kota yang mengadakan syukuran entah untuk apa. Orang yang memesan menelepon dua hari lalu dan menyebut jumlahnya dengan nada minta maaf, seolah seratus dua puluh terlalu banyak untuk dapur seukuran ini.
Ningsih bilang bisa. Ia selalu bilang bisa.
Dua puluh dua tahun ia begini. Mulai dari sepuluh kotak untuk arisan RT, lalu tiga puluh, lalu tujuh puluh, dan sekarang ada bulan-bulan tertentu ketika ia harus menolak karena dapurnya tidak muat.
Jari telunjuk kanannya bengkok sedikit di ruas terakhir. Itu bukan karena apa-apa; cuma karena dua puluh dua tahun memegang pisau dengan cara yang sama. Kalau udara dingin, ruas itu terasa. Ia tidak pernah ke dokter untuk urusan itu dan tidak berencana.
Yang lebih merepotkan justru punggungnya. Ada titik di sebelah kiri, sejengkal di atas pinggang, yang mulai berdenyut kalau ia berdiri lebih dari empat jam. Untuk itu ia punya cara: menaruh baskom di atas kursi, supaya tidak perlu membungkuk. Rara tidak tahu kenapa baskomnya selalu di kursi. Rara mengira ibunya cuma tidak rapi.
Pukul dua pagi ia berhenti sebentar. Duduk di kursi plastik Bu Tarmi yang ditinggal di teras, dengan pintu dapur terbuka supaya bisa melihat kalau ada yang mendidih. Gang itu sepi. Lampu di tiang depan rumah nomor tujuh mati sejak Lebaran dan belum ada yang mengurus.
Ia duduk delapan menit. Lalu masuk lagi.
Di dinding dapur ada kalender dari toko bahan kue, bulannya sudah lewat dua. Ningsih tidak menyobeknya. Di bawah angka-angka itu ada tulisan tangannya sendiri, pesanan-pesanan yang sudah selesai, dicoret satu-satu dengan pulpen yang sama.
Yang belum dicoret cuma satu, di kolom paling bawah, dan itu bukan pesanan.
Ia menulisnya bertahun-tahun lalu dan lupa menghapusnya. Sekarang tulisannya sudah pudar dan tidak terbaca lagi, bahkan olehnya.
Bawangnya sepuluh kilo. Ia mulai pukul sepuluh malam dan berhenti sebentar pukul satu untuk minum teh, lalu mulai lagi. Pisaunya sudah tipis di tengah, melengkung seperti bulan sabit yang kurus. Ia tahu persis di sebelah mana harus menekan supaya bawangnya terbelah rapi.
Di belakangnya, penanak nasi itu mengeluarkan uap tipis dari lubang tutupnya.
Ningsih menanak lebih banyak dari yang diperlukan. Selalu. Untuk seratus dua puluh kotak ia menanak untuk seratus tiga puluh, dan yang sepuluh itu tidak pernah masuk kotak. Ia memindahkannya ke bakul, menutupnya dengan serbet, menaruhnya di meja makan. Sore hari nasi itu biasanya masih di sana. Malamnya jadi nasi goreng, atau dibuang kalau sudah masam.
Rara pernah bertanya kenapa takarannya tidak dikurangi saja.
"Nanti kurang," kata Ningsih.
"Tapi tiap hari lebih, Bu."
"Ya sudah."
Percakapan itu terjadi tiga tahun lalu dan tidak pernah diulang.
Rara turun pukul lima, rambutnya masih basah, seragam sudah rapi kecuali dasi kecil yang ia bawa di tangan. Ia berhenti di anak tangga terakhir, seperti selalu, untuk melihat berapa banyak yang sudah selesai.
"Banyak amat."
"Seratus dua puluh."
"Ibu tidur?"
"Sebentar."
Itu artinya tidak.
Rara meletakkan dasinya di kursi dan mengambil sarung tangan plastik dari laci tanpa diminta. Ia mulai dari telur. Membelah, menata, menyendok sambal ke atasnya dengan gerakan yang sudah tidak perlu dipikirkan lagi. Mereka bekerja bersebelahan dua puluh menit tanpa bicara. Suara yang ada cuma pisau, sendok, dan kipas angin tua yang berderit tiap kali kepalanya berputar ke kiri.
"Sudah makan?" tanya Ningsih.
"Belum."
"Ada nasi."
Rara mengambil sesendok dari bakul, memakannya sambil berdiri, tanpa lauk. Ningsih tidak menoleh, tapi ia tahu anaknya melakukannya.
Bu Tarmi datang dari rumah sebelah pukul enam kurang, membawa kursi plastiknya sendiri seperti biasa. Ia tidak dibayar. Ningsih pernah mencoba dan Bu Tarmi tersinggung selama seminggu penuh, jadi sekarang bayarannya berupa dua kotak yang dibawa pulang dan tidak pernah dibicarakan.
"Kok nggak dibangunin," katanya, langsung duduk dan mulai memasukkan kerupuk ke plastik kecil.
"Baru mulai."
"Bohong."
Ningsih tidak menjawab.
Bu Tarmi menyebutnya almarhum sejak dulu. Ningsih tidak pernah membetulkan. Orang-orang di gang ini juga begitu; kalau lewat depan rumah dan kebetulan menyinggung, mereka bilang "sejak bapaknya nggak ada" dengan suara yang direndahkan sedikit, seperti orang menyeberangi kuburan.
Ningsih membiarkannya. Membetulkan berarti menjelaskan, dan menjelaskan berarti mengucapkan.
Telepon berbunyi pukul delapan lewat sepuluh. Selalu di antara delapan dan setengah sembilan, tidak pernah lebih dari itu, dan tidak pernah di hari lain selain Minggu.
Ningsih mengeringkan tangannya di celemek dulu. Baru mengangkat.
"Halo, Bu."
"Bayu."
"Sehat?"
"Sehat. Kamu?"
"Sehat."
Ada jeda dua detik. Di belakang suara Bayu terdengar sesuatu, lalu lintas mungkin, atau televisi tetangganya. Ningsih memindahkan telepon ke telinga kiri dan menahannya dengan bahu, lalu meneruskan menata ayam.
"Lagi masak?"
"Iya. Ada pesanan."
"Banyak?"
"Lumayan."
"Jangan capek-capek."
"Iya."
Rara tidak mengangkat kepalanya dari telur. Tapi sendoknya berhenti.
"Di sana hujan nggak?"
"Nggak. Panas."
"Di sini juga."
"Ya."
Lalu tidak ada apa-apa lagi. Ningsih mendengar Bayu menarik napas seperti orang yang hendak mengatakan sesuatu, lalu tidak jadi. Itu terjadi hampir tiap minggu dan Ningsih sudah lama berhenti menunggunya selesai.
"Sudah makan?"
"Sudah."
"Makan yang benar."
"Iya, Bu."
"Ya sudah."
"Ya sudah."
Sambungannya putus. Ningsih melihat layar: tiga menit lima puluh dua detik. Ia meletakkan telepon menghadap ke bawah di atas meja, di sebelah bakul nasi.
"Mas Bayu?" tanya Rara.
"Iya."
"Sehat?"
"Sehat."
Rara mengangguk dan kembali ke telurnya. Ada tiga puluh delapan yang belum diberi sambal. Ia mengerjakannya lebih cepat dari sebelumnya. Bu Tarmi memperhatikan itu dan tidak berkata apa-apa, karena Bu Tarmi tahu banyak hal dan mengatakan sedikit.
Di ruang pelatihan lantai dua kantor cabang, Rara duduk di barisan paling belakang dan tidak mencatat apa-apa. Pembicaranya membahas produk tabungan baru dengan antusiasme yang tidak menular ke siapa pun.
Di dalam tasnya ada map plastik biru muda. Di dalam map itu ada formulir yang sudah dua tahun ia bawa ke mana-mana tanpa pernah diisi.
Mutasi. Surabaya. Kantor wilayah.
Pak Hendra menawarkannya pertama kali dua tahun lalu, lalu setahun lalu, lalu tiga bulan lalu. Tiap kali Rara bilang saya pikirkan dulu, Pak, dan tiap kali Pak Hendra mengangguk seolah percaya.
Formulir itu masih rapi. Belum ada satu pun lipatan.
Kotak-kotak selesai pukul sepuluh. Mobil bak terbuka datang menjemput, sopirnya anak muda yang memanggil Ningsih Bude padahal bukan siapa-siapa. Mereka mengangkatnya dua-dua. Bu Tarmi pulang membawa kotaknya dan meninggalkan kursi plastiknya di teras, karena besok ada pesanan lagi.
Dapur itu tiba-tiba jadi terlalu besar.
Ningsih mengelap meja. Lalu kompor. Lalu meja lagi, padahal sudah bersih. Ia melepas celemek, melipatnya dua kali, menggantungnya di paku di belakang pintu.
Di atas meja makan, bakul nasi masih tertutup serbet.
Ningsih membukanya. Nasinya masih hangat. Ia mengambil piring dari rak, menyendok sedikit, lalu berhenti.
Piring itu ia letakkan kembali ke rak. Serbetnya ia tutup lagi.
Penanak nasi di belakangnya masih menyala di posisi hangat. Lampunya merah kecil, dan tidak berkedip sama sekali.
Pukul satu siang telepon berbunyi lagi. Bukan Bayu; nomornya tidak dikenal.
"Ibu Ningsih yang katering?"
"Iya."
Perempuan di seberang menyebut alamat di Jogonalan, lalu menyebut jumlahnya, delapan puluh kotak, lalu menyebut keperluannya.
"Empat puluh hari bapak saya, Bu."
Ningsih mengambil pulpen dari kaleng di atas kulkas dan membuka buku tulis bergaris. Ia menulis tanggal. Ia menulis delapan puluh. Ia menulis Jogonalan.
"Nasi kuning atau nasi putih?"
"Yang biasa saja, Bu. Yang buat selamatan."
"Ingkung ada?"
"Ada. Dua."
Ia menuliskan itu juga. Tangannya menulis rapi, huruf-hurufnya berdiri tegak seperti anak sekolah.
"Bisa, Bu?"
"Bisa."
Setelah sambungan ditutup, Ningsih membaca lagi apa yang ia tulis. Lalu ia menutup buku itu dan meletakkannya di tempatnya, di antara toples gula dan kalender bank yang tahunnya sudah lewat.
Di lantai atas ada dua kamar. Yang satu kamar Rara. Yang satu masih disebut kamar Mas Bayu, meskipun Bayu terakhir tidur di situ empat tahun lalu, dua malam, waktu neneknya meninggal.
Ningsih naik untuk mengambil kain lap yang dijemur di jendela belakang. Pintu kamar itu tertutup. Ia melewatinya, mengambil lapnya, dan turun lagi.
Lampunya tidak ia nyalakan. Siang hari memang tidak perlu.
Rara pulang setengah tujuh, membawa gorengan yang dibeli di depan gang karena ia selalu merasa tidak enak pulang dengan tangan kosong. Ia menaruhnya di meja, masih dalam kertas cokelat yang tembus minyak.
"Ibu belum makan?"
"Sudah tadi."
Rara melihat ke bakul di ujung meja. Serbetnya masih terlipat persis seperti pagi tadi, sudutnya masuk ke bawah dengan cara yang cuma ibunya yang bisa.
"Nasinya sisa banyak," katanya.
"Nanti digoreng."
"Besok pagi keburu masam, Bu."
Ningsih tidak menjawab. Ia sedang mencuci wajan yang sudah dicuci.
Rara mengambil piring. Ia menyendok nasi dari bakul, banyak, lebih banyak dari yang biasa ia makan. Ia mengambil gorengan dari kertas cokelat dan menaruhnya di pinggir piring. Lalu ia duduk di kursi yang menghadap ke dapur, supaya ibunya bisa melihat.
Ia makan pelan-pelan. Sampai habis.
Ningsih terus mencuci wajan itu. Airnya mengalir, dan ia tidak mematikannya sampai anaknya selesai.
"Enak?"
"Enak."
"Ya sudah."
Rara membawa piringnya ke bak cuci dan mencucinya sendiri. Bakul di meja sekarang kosong, serbetnya tergeletak terbuka.
Ningsih melipatnya kembali. Sudutnya ia masukkan ke bawah, seperti biasa. Lalu ia menaruh bakul kosong itu di tempatnya di rak, dan menyeka meja sekali lagi.
Di sudut dapur, tombol penanak nasi itu masih di posisi hangat, dan di dalamnya tidak ada apa-apa.