Kirana menahan pasukannya dengan tangan kiri terangkat, telapak terbuka, seperti guru mengajar anak-anak berhenti berlari. Tiga Tangan Abu di belakangnya masih memegang senapan angin, moncongnya mengarah ke bawah rantai, ke punggung Sena yang menjauh mata rantai demi mata rantai.
"Kejar," kata salah satu dari mereka. Namanya Darto, dulu pemulung galah magnet dari blok tujuh, sekarang berseragam abu-abu dengan pelat dada bertuliskan nomor, bukan nama. "Dia bawa aset Dewan."
"Aku yang jaga puncak," kata Kirana. "Kalian turun jalur timur, potong dia di simpang tiga."
Bohong. Simpang tiga sudah runtuh sejak dua musim abu lalu. Darto tahu itu. Tapi ia sudah lama berhenti membantah orang yang membawa pangkat, karena pangkat berarti kartu napas, dan kartu napas berarti ibunya sendiri bisa bernapas satu hari lagi.
Kirana menatap punggung Sena yang mengecil, lalu menatap jam pasir kecil di pergelangan tangannya, hadiah dari ibunya sebelum ibunya jadi jaminan. Ia tahu ke mana jarum waktu ini menuju. Setiap jam ia tidak melapor, katup ibunya di sel Menara ditutup satu putaran. Malam ini, kalau ia biarkan Sena naik, putaran itu akan sampai nol.
Ia sudah menghitungnya sejak di kaki tangga.
"Turun," katanya lagi ke tiga anak buahnya, suaranya datar seperti membaca daftar barang. "Aku bilang turun."
Darto ragu. Lalu turun, karena itu yang selalu dilakukan orang Distrik Bawah waktu diberi perintah oleh siapa pun yang lebih dekat ke Dewan daripada mereka.
Kirana berdiri sendirian di puncak, angin menampar respiratornya, dan ia tidak menoleh ke arah Menara Timbang Napas, tempat ibunya sedang kehilangan udara satu putaran demi satu putaran. Kami mencatat nama Kirana Dwiseta malam itu, di daftar Ladang Ratri, pada baris yang sama dengan nama ibunya. Kami tidak membuatnya jadi pahlawan. Ia hanya berhenti mengejar sesuatu yang bukan miliknya.
*
Sena naik lewat celah marmer yang patah, dan udara berubah tanpa peringatan.
Tidak ada abu. Tidak ada rasa pasir di lidah, tidak ada gatal familiar di tenggorokan yang selama sembilan belas tahun jadi teman satu-satunya yang setia. Ia berhenti di ambang reruntuhan, dan paru-parunya, yang terlatih menyaring racun, kebingungan menghadapi sesuatu yang bersih.
Ia terbatuk. Bukan karena abu. Karena udara ini terlalu ringan, seperti mencoba berjalan di lantai yang ternyata tidak ada.
Marmer melayang di sekelilingnya, potongan-potongan lantai istana yang tidak lagi terikat gravitasi mana pun yang ia kenal, mengambang pelan seperti perahu kertas di kolam tenang. Di bawah kakinya, awan abu membentang seperti laut beku, dan Distrik Bawah entah di titik mana di kedalaman itu, tak terlihat, hanya diyakini ada.
Sena menahan napas jernih itu di dadanya lebih lama dari yang perlu. Tempat ini terlalu diam. Terlalu bersih untuk sesuatu yang nyata. Ia sudah belajar, sejak umur delapan tahun, bahwa segala yang bersih di kota ini adalah jebakan yang belum ketahuan harganya.
Ia melangkah masuk, tangan kanan menggenggam Sekar Puncak yang berdenyut di sakunya, hangat seperti detak jantung kedua.
*
Baswara sudah di sana.
Ia berdiri di depan singgasana yang menyala samar, cahaya kelabu kehijauan yang keluar dari retakan di lantainya sendiri, dan enam serpihan mahkota tersusun di tangannya seperti kelopak yang dipetik paksa dari batang yang sama. Ia menekannya satu per satu ke dudukan singgasana.
Tidak ada yang terjadi.
"Defisit yang bisa dinegosiasikan," katanya, kepada dirinya sendiri lebih dari kepada Sena, suaranya masih rapi, masih birokratis, seolah ia sedang membaca neraca yang belum seimbang. Ia menekan serpihan ketujuh yang kosong, tempat Sekar Puncak seharusnya berada, dan singgasana bergetar sebentar lalu diam, menolak.
"Kau tidak bisa memaksanya," kata Sena. Suaranya pendek, hemat napas, seperti biasa.
Baswara menoleh. Untuk pertama kalinya sejak Sena mengenalnya lewat cerita orang-orang di Distrik Bawah, wajah Baswara yang mulus itu tampak bergerak salah, seperti kaca yang direkatkan dengan lem yang mulai gagal. Garis halus muncul di sudut matanya. Bukan kerutan. Retakan.
"Ia akan belajar," kata Baswara. "Segala sesuatu bisa diajar, jika neracanya benar."
Kaca di dada kirinya berkilat lebih terang, dan Sena melihat, untuk sepersekian detik, sesuatu di baliknya yang bergerak seperti sedang mengunyah.
*
Baswara mengangkat tangan, dan abu di bawah sana bergolak.
Ia tidak berteriak. Ia hanya berkata, "Alihkan," seperti memberi instruksi kepada bawahan yang tak terlihat, dan kami di bawah merasakannya sebagai selimut basah yang turun tiba-tiba di atas atap-atap seng Distrik Bawah, memadamkan lampu-lampu minyak satu per satu.
Setiap perintah memotong sesuatu dari Baswara. Kami tidak melihatnya saat itu, tapi Sena melihat: rambut di pelipis Baswara memutih dalam hitungan detik, kulit di punggung tangannya mengkerut seperti kertas dibakar dari tepi.
"Ini bukan ancaman," kata Baswara, napasnya mulai berat, "ini penyesuaian jatah. Distrik Bawah menerima kelebihan pengelupasan malam ini. Sebagai ganti, kau menyerahkan yang kau bawa."
Di bawah sana, di ladang puing yang sekarang gelap total, jarum tabung bunga Wulan menyentuh nol.
Dan Wulan, yang sudah tidak lagi mendengarkan siapa pun yang menyuruhnya diam di rumah, sudah berada di keranjang derek yang sama yang membawa Sena naik, memeluk tabung yang tak lagi berguna, memaksa dirinya sendiri ke atas dengan tangan yang gemetar menahan pegangan rantai.
*
Wulan tiba di ambang reruntuhan dengan bibir yang sudah lebih biru dari biasanya, dan hal pertama yang ia lakukan bukan memanggil kakaknya.
Ia bicara ke serpihan.
"Aku tahu kau bisa dengar," katanya, suaranya patah oleh batuk yang tak lagi bisa ia sembunyikan sebagai gurauan. "Kakakku sudah kasih napasnya buat aku sejak aku umur nol. Kau nggak perlu nunggu dia kasih lagi sekarang."
Sena bergerak untuk mendorongnya kembali ke keranjang, tapi Wulan menahan lengannya, keras, lebih keras dari yang seharusnya bisa dilakukan tubuh sekurus itu.
"Aku bukan yang harus diselamatkan," katanya. "Aku yang milih."
Sayup, dari suatu tempat yang bukan ruang maupun waktu, suara lain menyusup, kuno, lelah: sebuah permohonan yang bukan untuk dipakai, melainkan untuk dihancurkan.
Sekar Puncak di tangan Sena berdenyut, keras, seperti mengenali sesuatu yang tak pernah dikenalinya di dada Baswara selama seratus delapan belas tahun.
*
Sena tahu, di titik itu, bahwa tidak ada pilihan bersih tersisa.
Ia menggenggam Sekar Puncak dan menekannya ke singgasana, di dudukan yang tadi kosong.
Cahaya kelabu berubah keemasan, dan Sena merasakan sesuatu tercabut dari dalam dirinya, bukan sakit, lebih seperti pintu yang terbuka lebar-lebar untuk pertama kalinya dan udara dingin masuk ke ruangan yang selama ini terlalu sesak. Mahkota tidak mengikat karena ia mengambilnya malam itu. Ia mengikat karena sebelas tahun lalu, di gubuk seng yang bocor, seorang anak delapan tahun pernah menekan masker satu-satunya ke wajah bayi yang menangis dan memilih bernapas lebih sedikit malam itu, dan malam berikutnya, dan seterusnya, tanpa pernah menyebutnya pengorbanan.
Mbah Karsi benar. Yang dipilih adalah yang menyerahkan.
*
Baswara melihat itu, dan untuk pertama kalinya suaranya pecah dari nada birokratisnya.
"Aku menyelamatkan kota ini," katanya, "waktu tak ada yang mau. Aku yang membagi jatah waktu kelaparan membunuh lebih banyak dari abu sekarang."
"Kau tetap milih ini," kata Sena, "sampai sekarang."
Baswara tidak membantah. Itu yang membuatnya lebih menakutkan daripada kalau ia berbohong. Kaca di dadanya retak dari dalam, jaring-jaring cahaya pecah seperti es yang menyerah pada beratnya sendiri, dan serpihan yang ditanam paksa di tubuhnya, yang tidak pernah benar-benar miliknya, akhirnya menagih seluruh sisa yang tersisa.
Ia runtuh bukan sebagai mayat, melainkan sebagai abu, di lantai singgasana yang tak pernah mengakuinya.
*
Sena berdiri di depan mahkota utuh, tujuh kelopak menyatu, menyala seperti bara yang akhirnya menemukan kayu yang tepat untuk dibakar.
Ia bisa memakainya. Bisa mengarahkan abu selamanya, seperti yang diinginkan Baswara, hanya dengan wajah yang berbeda.
Ia memilih tidak.
Ia mengangkat mahkota, merasakan beban seluruh dua abad di telapaknya, lalu membantingnya ke lantai marmer, mengarahkan pengelupasan terakhir bukan ke distrik mana pun, melainkan ke laut abu yang tak berpenghuni di ujung dunia yang tak pernah kami petakan.
Harganya seluruh sisa umurnya. Ia merasakannya seperti tubuhnya sendiri berubah jadi kertas tua, rapuh, tapi masih berdiri.
Wulan menangkapnya sebelum ia jatuh.
*
Kami menutup kisah ini dengan langit di atas Distrik Bawah, untuk pertama kalinya sejak Malam Langit Patah, bersih.
Wulan berdiri di ambang ladang puing esok paginya, tanpa tabung bunga, bernapas dengan paru-paru yang masih rusak tapi tidak lagi sekarat, menghitung nama-nama yang pergi malam itu, satu per satu, keras-keras, seperti Mbah Karsi dulu membaca surat-surat yang tak pernah sempat diantar.
Kami mewariskan kisah ini bukan karena ia rapi. Ia tidak rapi. Kami mewariskannya karena tidak punya kisah lain, dan karena seseorang harus menyimpan nama Sena Ardaya di tempat abu tidak bisa menjangkaunya lagi.