Kami menyebutnya mata rantai keseratus bukan karena kami pernah menghitungnya. Kami menyebutnya begitu karena di situlah orang biasanya jatuh, dan seratus terdengar seperti angka yang pantas untuk kematian yang rapi.
Sena Ardaya tidak jatuh. Belum.
Ia menggantung di sana dengan tangan kiri yang sudah tidak lagi berwarna kulit, melainkan warna karat basah. Rantai Sengkalan berdenyit di bawah beratnya, mata besi sebesar kepala kerbau yang berayun pelan ditelan angin yang naik dari bawah, bukan turun—dan itu sendiri sudah salah, sudah menyalahi hukum abu yang kami kenal sejak lahir. Peluru angin memercik dari pelat timah dua puluh meter di bawahnya, meninggalkan bunga api kecil yang mati sebelum sempat jadi apa-apa. Tangan Abu di bawah sana tidak berteriak. Mereka tidak pernah berteriak. Mereka menembak seperti menagih utang, tenang, karena tahu Sena tidak punya ke mana pun untuk lari kecuali ke atas.
Di dadanya, di balik kain tambal tiga lapis, Sekar Puncak berdenyut. Hangat, seperti bara yang lupa cara padam. Ia bisa merasakannya lewat tulang rusuk, sebuah detak kedua yang tidak seirama dengan jantungnya sendiri, memanggil ke arah yang sama setiap kali: atas, atas, atas.
Di punggungnya, tabung bunga Wulan—dicat kembang yang lukisannya sudah luntur jadi noda merah muda kusam—menunjukkan jarum di bawah angka tiga. Kurang dari tiga jam. Sena tidak perlu melihat jarum itu untuk tahu. Ia sudah menghafal cara jarum itu bergerak, sama seperti orang menghafal detak jam sebelum sidang mati digelar.
Ia mengangkat tangan kirinya. Darah menetes, jatuh lurus, tidak melengkung karena angin yang naik terlalu kencang untuk membelokkannya. Ia meraih mata rantai berikutnya.
“Seratus satu,” bisiknya, kepada tidak ada siapa-siapa, karena menghitung adalah satu-satunya cara mengelabui tubuh agar percaya masih ada rencana.
Ia naik.
*
Tujuh hari sebelumnya, surat itu datang seperti biasa surat-surat Dewan datang: tanpa mengetuk, terselip di sela papan gubuk seolah abu sendiri yang mengantarnya.
Surat Pencabutan Jatah Napas Nomor 4471. Segel abu di sudut kanan, timbul, dingin di bawah jempol. Sena membacanya berdiri, di ambang pintu, sementara Wulan duduk di dipan memeluk tabung bunganya seperti orang memeluk kucing yang sakit.
“Paru-paru tidak lagi ekonomis untuk ditanggung,” Sena membaca, datar, seolah membaca daftar barang dagangan.
“Kedengarannya seperti aku barang rusak,” kata Wulan, lalu batuk, tiga kali, pendek-pendek, seperti tanda baca di kalimatnya sendiri. “Setidaknya bisa didaur ulang.”
Sena tidak menjawab. Tangannya gemetar sedikit, cukup untuk membuat kertas berbunyi, tidak cukup untuk kami sebut sebagai tangisan. Ia melipat surat itu, memasukkannya ke saku dada, dekat sekali dengan jantungnya sendiri, seolah kedekatan itu bisa mengubah isinya.
“Aku cari kartu,” katanya.
“Kelas satu itu mahal, Kak.”
“Aku tahu harganya.”
“Lebih mahal dari harga,” kata Wulan, matanya terlalu tenang untuk anak sebelas tahun, “kadang harganya kamu.”
Sena sudah berjalan keluar sebelum kalimat itu selesai.
*
Ladang Puing malam itu adalah negeri sendiri: gelap kelabu, dengung logam yang mendingin setelah siang menelan panas, dan batuk-batuk yang bersahutan dari pemulung lain seperti jemaah yang lupa doa mereka sendiri. Sena menyeret galah magnetnya menyusuri reruntuhan sebuah menara kecil, mungkin dulu bagian dari taman gantung, sekarang cuma kerangka yang berkarat menghadap langit yang tak pernah lagi ia miliki.
Ia mencari kartu curian, kabel tembaga, apa saja yang laku. Yang ia temukan, tersangkut di antara dua pelat runtuh, adalah kelopak logam sebesar telapak tangan, berwarna seperti abu yang dibakar ulang, hangat ketika galahnya menyentuh—hangat, padahal malam itu dingin cukup untuk membekukan ludah.
Ia mengangkatnya dengan tangan telanjang, sebuah kesalahan yang biasa dibayar dengan luka bakar. Tidak ada luka bakar. Hanya denyut, satu kali, seperti jantung kedua berdetak untuk menyapa.
Dan nyanyian. Pelan, dalam nada yang tak punya kata, hanya untuknya, seolah seluruh Ladang Puing tuli terhadapnya kecuali Sena sendiri.
Ia memasukkannya ke saku, di samping surat yang belum sempat ia buang.
*
Mbah Karsi memanaskan punggung surat itu di atas nyala lampu minyaknya, jarinya yang bernoda tinta bergerak pelan seperti orang yang sudah lama berdamai dengan waktu.
“Ada tinta yang cuma mau bicara kalau dipanggang,” katanya, tanpa menoleh. “Seperti orang tua. Harus dipanaskan hatinya dulu baru cerita.”
Huruf muncul, cokelat, seperti bekas luka bakar yang disengaja. Sena membaca lewat bahu Mbah Karsi.
Mahkota memilih. Tidak diwariskan. Empat puluh tahun aku menunggu tangan yang layak menerima ini.
“Empat puluh tahun,” Mbah Karsi mengulang, seperti mengunyah angka itu. “Kau tahu berapa banyak orang mati menunggu lebih pendek dari itu?”
Di sudut mata Sena, sesuatu berdiri. Bayangan abu, tinggi, mahkota patah sebelah di kepalanya, tak pernah utuh dalam bentuk apa pun yang bisa dipandang langsung.
Bersediakah kau mengulang keputusanku? suara itu bertanya, kuno, berirama seperti mantra yang sudah lama kehilangan kekuatannya untuk menenangkan.
Sena tidak menjawab. Ia tidak tahu pertanyaan itu tentang apa.
*
Kirana Dwiseta menemukannya sebelum fajar, respirator peraknya berkilau di bawah lampu jalan yang nyaris mati. Ia tidak butuh banyak kata.
“Baswara mau bicara,” katanya. “Bukan permintaan.”
Menara Timbang Napas dingin, berbau kapur dan tinta, sunyi seperti ruang tunggu yang sudah lupa untuk apa orang menunggu. Baswara Anung berdiri di tengahnya, jubah kelabu berlapis timah, wajah yang terlalu mulus untuk seratus delapan belas tahun.
“Aset tak terdaftar,” katanya, sopan, seolah membacakan neraca. Ia membuka kaca di dada kirinya. Di baliknya, serpihan mahkota berdenyut seperti bara yang memakan sesuatu—usianya sendiri, kami tahu sekarang, meski saat itu Sena hanya melihat cahaya.
“Serahkan yang kau bawa,” lanjut Baswara. “Adikmu dapat kartu kelas satu, seumur hidup dijamin negara.”
Wulan dibawa masuk, dijaga dua Tangan Abu, tabung bunganya masih ia peluk seperti selalu.
“Jangan,” kata Wulan, sebelum Sena sempat membuka mulut. Suaranya pecah oleh batuk, tapi matanya tidak. “Aku bukan alasan buat kau mati, Kak.”
Sena menggenggam Sekar Puncak dalam sakunya, sampai ujung logamnya menoreh kulit.
“Tidak,” katanya kepada Baswara.
Bukan keberanian. Kami tahu itu. Itu suara adiknya, dipinjam untuk sementara.
*
Di kaki Tangga Rantai, Mbah Karsi membakar peti suratnya sendiri, empat puluh tahun rahasia jadi abu dalam semalam, agar nama-nama kami tidak pernah ditemukan siapa pun yang bertanya terlalu keras. Kirana menyalakan derek diam-diam, memutar tuas yang seharusnya dikunci, wajahnya datar seperti orang yang sudah lama berhenti menghitung dosa.
Kami menyerbu penjagaan, bukan sebagai pasukan, hanya sebagai kumpulan tangan yang kelelahan memutuskan sekali saja untuk marah. Cukup lama untuk satu orang naik.
*
Dan begitulah Sena kembali ke mata rantai keseratus, seperti yang sudah kami ceritakan, dengan darah di tangan kiri dan tiga jam yang menyusut menjadi kurang.
Di atas sana, jauh di sisi lain rantai, sesosok jubah kelabu sudah lebih dulu naik. Baswara. Dan abu, yang seharusnya turun, terus naik, seolah langit sendiri bingung ke arah mana harus jatuh sekarang ada dua yang membawa serpihannya.
Sena tidak berhenti untuk memikirkan artinya. Ia hanya tahu satu hal, sesederhana jarum jam di punggungnya: berhenti sama dengan kalah.
Ia meraih mata rantai berikutnya.