Pemusnahan dilakukan empat kali setahun, dan Ningrum selalu memilihnya hari Selasa.
Bukan karena ada aturannya. Senin orang masih membawa urusan akhir pekan. Jumat semua orang ingin cepat pulang. Rabu dan Kamis loket bawah ramai dan halaman belakang dipakai parkir motor. Selasa halaman itu kosong kecuali kucing yang tidur di atas tutup drum, dan kucing bisa diusir tanpa penjelasan.
Aturannya sendiri hanya empat baris, ditempel di balik pintu dengan selotip yang sudah cokelat. Kiriman yang telah disimpan enam bulan dan tidak diklaim dimusnahkan. Pemusnahan disaksikan sekurang-kurangnya dua orang. Jumlah dicatat dalam Buku Pemusnahan. Berita acara ditandatangani penyaksi.
Empat baris untuk sesuatu yang butuh tiga jam.
Sri baru pertama kali ikut. Ia berdiri di dekat karung dengan tangan di belakang punggung, seperti orang menunggu giliran disuntik.
"Bantuin ngitung," kata Ningrum. "Ambil yang kiri."
"Dihitung satu-satu, Bu?"
"Satu-satu."
"Nggak bisa ditimbang?"
"Bisa." Ningrum membuka jahitan karung dengan gunting kecil, memotong benangnya di satu titik lalu menariknya sampai lepas seluruhnya. "Tapi yang ditimbang berat, yang dicatat pucuk. Kalau ditimbang, angkanya bohong."
Mereka menghitung di lantai, di atas dua lembar koran. Ningrum menumpuk sepuluh-sepuluh. Sri mencatat di kertas dengan pensil yang tiap sepuluh menit patah karena ditekan terlalu keras.
Ada undangan pernikahan yang tanggalnya sudah lewat setahun. Ada tiga amplop berisi rapor. Ada sesuatu yang keras dan kecil di dalam amplop cokelat, yang waktu diraba ternyata gigi susu, dibungkus tisu, tanpa keterangan apa pun. Ada surat pembaca untuk koran yang sudah tutup.
"Ini gimana, Bu?" Sri mengangkat amplop bergambar bunga. "Ada nomor teleponnya di dalam."
"Nomornya di dalam apa di luar?"
"Di dalam."
"Berarti bukan pengirim. Itu nomor yang mau dikasih ke orang." Ningrum menerimanya, melihat sebentar, mengembalikannya. "Masuk hitungan."
Sri menaruhnya di tumpukan dan menyeka keringat dengan lengan.
Menjelang pukul sebelas Hartono turun membawa Buku Pemusnahan, sampulnya karton tebal dengan bolpoin diikat rafia supaya tidak hilang.
"Berapa, Bu?"
"Belum kelar."
"Kira-kira?"
"Kalau kira-kira nggak usah dihitung."
Hartono duduk di kursi plastik di bawah pohon dan main ponsel sampai selesai.
Drumnya bekas aspal, dilubangi bagian bawahnya dengan obeng dan palu oleh orang yang sudah pensiun tujuh tahun lalu. Ningrum menyalakan dari bawah dengan kertas koran, menunggu sampai apinya cukup, lalu mulai memasukkan.
Sepuluh-sepuluh. Tidak pernah sekaligus. Sekaligus membuat apinya mati tertimbun, asapnya jadi hitam, dan tetangga belakang mengeluh.
Sebelum tiap tumpuk masuk, Ningrum membalik yang paling atas dan membaca baris pertamanya. Cuma baris pertama.
Sri melihatnya di tumpukan ketiga.
"Ibu baca?"
"Baris pertama."
"Kenapa?"
Ningrum memasukkan tumpukan itu dan menunggu sampai pinggirnya menghitam sebelum menjawab.
"Biar ada yang pernah baca sekali."
Sri tidak bertanya lagi. Ia berdiri di sisi angin yang lain dan ikut memasukkan, dan sesudah beberapa tumpuk ia mulai membalik yang paling atas juga, tanpa diminta, dan Ningrum tidak menyuruhnya berhenti.
Baris pertama itu hampir selalu sama-sama saja. Dengan hormat. Kepada Yth. Assalamualaikum. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak yang saya hormati. Assalamualaikum, Ibu. Hai. Assalamualaikum, Emak. Salam sejahtera. Assalamualaikum. Bu, maaf lama tidak kabar-kabar. Assalamualaikum.
Orang memulai surat dengan cara yang sama, dan itulah sebabnya baris pertama tidak pernah memberitahu apa-apa.
Pukul satu lewat, hitungannya selesai. Dua ratus empat belas pucuk.
Ningrum menulis angka itu di kolom yang benar, dengan angka dan huruf sekaligus seperti yang diminta formulir: 214 (dua ratus empat belas). Hartono menandatangani di kolom penyaksi. Ningrum menandatangani di kolom pelaksana, dan tanda tangannya sudah empat belas tahun sama: satu huruf N yang besar dan sisanya garis yang tidak berpura-pura jadi huruf.