Yang pertama dibuka Ningrum pagi itu sebuah undangan sunatan bertanggal empat bulan lalu.
Amplopnya cokelat muda, sudut kanan bawahnya menghitam kena air. Nama penerimanya ditulis lengkap sampai gelar, alamatnya Jalan Kesambi, tetapi nomor rumahnya hanya dua angka — padahal Kesambi sudah memakai tiga angka sejak sembilan puluh enam. Ningrum menaruhnya di baki kiri.
Baki kiri untuk yang masih bisa dikejar. Baki kanan untuk yang tidak.
Ruangannya di lantai dua, bekas gudang formulir yang disekat triplek, dan siangnya selalu lebih panas daripada halaman di luar. Ada dua meja. Yang satu miliknya, yang satu milik Sri, dan meja Sri lebih rapi karena Sri baru dua tahun di situ dan masih menganggap kerapian itu ada gunanya. Di antara kedua meja berdiri rak besi tujuh tingkat. Tingkat paling bawah bernomor sembilan, sisa penomoran lama yang tak pernah dibetulkan, dan sampai sekarang semua orang menyebutnya kotak sembilan meski isinya bukan kotak melainkan tiga karung goni yang dijahit mulutnya.
Kotak sembilan untuk yang sudah lewat enam bulan.
"Bu, ini gimana?" Sri mengangkat sesuatu yang dulunya kartu pos. Gambarnya Pangandaran, tulisannya sudah luntur jadi lembayung.
"Perangkonya masih ada?"
"Ada."
"Kiri."
Sri menaruhnya di baki kiri dan menandai buku dengan pensil. Ningrum tidak menoleh. Ia sudah membuka yang berikutnya, tagihan koperasi, dan yang berikutnya lagi, brosur umrah tiga lembar yang dijilid staples sampai tebal seperti buku.
Pekerjaannya sederhana kalau dijelaskan kepada orang. Surat yang tidak bisa diantar dikirim ke sini. Ia membukanya. Ia mencari nama dan alamat pengirim. Kalau ketemu, surat itu dikembalikan; kalau tidak, disimpan enam bulan; kalau enam bulan lewat dan tidak ada yang mencari, dimusnahkan.
Yang tidak pernah ia jelaskan kepada orang: ada aturan tentang membaca. Petugas hanya boleh membaca sejauh yang perlu untuk menemukan pengirim. Biasanya itu berarti baris pertama dan baris terakhir. Sisanya tidak. Aturan itu ditulis tahun tujuh puluhan oleh orang yang sudah lama meninggal, dan Ningrum mematuhinya bukan karena takut ketahuan — tidak ada yang mengawasi ruangan panas di lantai dua — melainkan karena empat belas tahun lalu ia pernah membaca satu surat sampai habis, surat dari seorang perempuan kepada suaminya di Riau, dan setelah itu ia butuh tiga hari untuk bisa membuka amplop lagi tanpa tangannya berhenti sendiri.
Jadi baris pertama, baris terakhir, lalu tutup.
Sekali waktu cara itu berhasil dan rasanya seperti membetulkan sesuatu yang bengkok. Pernah ada surat untuk seorang perempuan di Jamblang, isinya foto bayi dan selembar kertas, dan di baris terakhirnya tertulis nama sebuah warung. Ningrum menelepon empat warung dengan nama itu di tiga kecamatan sampai ada yang menjawab, dan tiga hari kemudian ada orang datang ke loket bawah membawa kotak wajik. Ia tidak naik ke lantai dua. Hartono yang mengantarkan kotaknya. Sri makan empat potong dan Ningrum satu, dan sisanya ditinggal di meja sampai kering.
Kalau ditanya kenapa ia betah empat belas tahun di ruangan yang panas, ia biasanya menjawab karena dekat rumah. Itu benar dan bukan alasannya.
Pukul sembilan lewat, Hartono naik dan berdiri di ambang pintu tanpa masuk, seperti biasa, karena di dalam panas.
"Kiriman cabang sudah datang, Bu Ningrum. Dua karung."
"Gegesik?"
"Gegesik, Arjawinangun, sama Plered."
Ningrum mengangguk tanpa berhenti. Karung Gegesik selalu yang paling gampang dikenali, dan bukan karena isinya. Cap tanggal di sana rusak entah sejak kapan; angka empatnya tidak pernah keluar penuh, selalu tinggal separuh atas, seperti orang yang tidak jadi bicara. Ningrum sudah dua kali menulis nota. Nota pertama dijawab dengan permintaan agar diisi formulir yang benar. Nota kedua diisi formulir yang benar dan tidak dijawab sama sekali.
"Tolong dibilangin lagi soal capnya."
"Sudah saya bilang, Bu."
"Bilangin lagi."
Hartono tersenyum dengan cara orang yang tidak akan membilangi siapa-siapa, lalu turun.
Sampai tengah hari Ningrum membuka seratus enam belas amplop. Ia tahu angkanya karena ia mencatat. Dari seratus enam belas itu, empat puluh satu ke baki kiri dan sisanya kanan. Yang kanan masuk rak sesuai bulan. Tingkat satu Agustus, tingkat dua Juli, terus ke bawah sampai tingkat tujuh, dan yang jatuh dari tingkat tujuh masuk karung.
Ia makan siang di meja: nasi, tempe orek, dan sambal yang dibungkus terpisah karena Sri tidak tahan pedas dan Ningrum tidak tega membuatnya mencium bau itu setengah jam sebelum jam istirahat.
Pandu pulang jam empat dengan seragam yang keluar sebelah dan tas yang cuma disangkutkan satu bahu.
"Ada minyak kayu putih, Bu?"
"Di laci meja rias. Kepala lagi?"
"Dikit."
"Dikit tapi kamu nyari sendiri sampai ke kamar Ibu."
Anak itu tidak menjawab, cuma nyengir, dan lima menit kemudian keluar dari kamar dengan tengkuk mengilat dan bau yang memenuhi rumah sampai ke dapur. Selalu di tengkuk, tidak pernah di pelipis seperti orang lain. Kebiasaan itu ia dapat dari neneknya, dan Ningrum tidak pernah bilang bahwa neneknya juga mengolesnya di tengkuk, dan bahwa dulu di rumah Jalan Pelandakan ada tiga orang yang tengkuknya bau minyak kayu putih setiap sore.
Pandu duduk di lantai, menyandarkan punggung ke kaki kursi, membuka buku tulisnya.
"Bu, ini soalnya salah nggak sih." Ia menyodorkan buku. "Aku dapat 74. Yang nomor tujuh dicoret guruku."
Ningrum melihat. Jawabannya benar.
"Angka tujuhmu."
"Kenapa?"
"Kamu coret. Gurumu kira itu bukan tujuh."
"Kan Ibu yang ngajarin nyoret."
"Iya."
"Terus kenapa sekarang salah?"
"Nggak salah." Ningrum mengembalikan bukunya. "Cuma nggak semua orang tahu itu tujuh. Kakek yang ngajarin Ibu. Katanya biar nggak ketuker sama satu. Zaman dulu orang nulis satu pakai kaki, jadi mirip."
"Kakek pos juga?"
"Kakek bukan pos. Kakek juru ukur."
Pandu mengangguk seolah itu menjelaskan sesuatu dan kembali ke bukunya. Ningrum berdiri agak lama di situ, memandangi ubun-ubun anaknya, lalu ke dapur menyalakan kompor.
Waktu makan malam Pandu bertanya soal foto di lemari, yang bingkainya retak dan tidak pernah diganti.
"Yang rambutnya dikepang dua itu siapa, Bu?"
"Wa Ratmi."
"Yang di Malaysia?"
"Iya."
"Kok nggak pernah nelepon?"
Ningrum menambahkan nasi ke piring anaknya walaupun tidak diminta. "Orang kerja di sana susah. Paspornya dipegang majikan."
"Ibu pernah nyari?"
"Pernah." Ia meletakkan sendok nasi. "Dulu. Nenek yang nyuruh berhenti."
"Kenapa berhenti?"
"Karena Nenek bilang berhenti."
Pandu menunggu tambahan yang tidak datang, lalu meneruskan makan. Ningrum menghitung dalam hati berapa lama pertanyaan itu akan dilupakan anaknya. Biasanya dua hari. Kadang seminggu.
Yang tidak ia hitung: bahwa ia sendiri sudah berhenti menghitung tahun. Sebelas atau dua belas, ia tidak yakin lagi, dan ketidakyakinan itu tidak lagi terasa seperti kehilangan melainkan seperti alamat lama yang tidak pernah dipakai — tetap ada di kepala, tidak pernah ditulis di amplop.
Malamnya, sesudah piring beres dan Pandu tidur, ia mengeluarkan kaleng biskuit dari bawah tempat tidur.
Kalengnya Khong Guan, catnya sudah tinggal separuh, dan isinya kancing. Bukan koleksi; tidak ada yang dikoleksi. Itu kancing yang copot dari baju siapa saja selama dua puluh tahun, ditambah kancing dari baju yang sudah dibuang, ditambah satu genggam kancing yang tidak jelas dari mana. Ningrum menuangnya ke atas seprai dan mulai memisahkan: yang empat lubang ke kiri, yang dua lubang ke kanan, yang berkaki sendiri.
Ia melakukan itu kalau ada yang mengganjal dan ia belum tahu apa. Malam itu yang mengganjal amplop terakhir sebelum jam pulang.
Amplop putih, murah, jenis yang dijual di warung tiga ratus perak. Tulisan tangannya miring ke kanan, hurufnya besar-besar, rapi seperti orang yang menulis pelan-pelan supaya terbaca. Ditujukan ke Jalan Pelandakan nomor 12, Cirebon.
Jalan Pelandakan sudah tidak ada. Digusur tahun dua ribu sembilan untuk akses tol, seluruhnya, dua puluh tiga rumah. Ningrum tahu itu lebih baik daripada siapa pun di kantor karena salah satu dari dua puluh tiga rumah itu rumah tempat ia dibesarkan.
Ia sudah sering menerima surat ke alamat yang tidak ada lagi. Orang tua yang tidak tahu keluarganya pindah, penagih yang datanya belum diperbarui, undangan reuni. Itu biasa. Yang membuatnya berhenti sebentar tadi sore adalah karena ia merasa pernah melihat tulisan itu, dan ia tidak bisa mengingat di mana, dan sesudah lima detik ia berhenti mencoba karena masih ada tiga puluh amplop lagi dan jam sudah setengah empat.
Prosedurnya ia jalankan seperti biasa. Buka. Baris pertama.
Assalamualaikum, Emak.
Baris terakhir.
Salam buat semuanya di sana.
Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat pengirim. Tidak ada apa-apa di balik amplop selain perangko dan cap tanggal dengan angka empat yang tinggal separuh atas.
Ningrum menulis di buku besar: satu pucuk, tanpa identitas pengirim, alamat tujuan tidak ditemukan. Ia menstempel amplopnya, memasukkannya ke rak tingkat satu, dan mengunci pintu.
Kancing di seprai sudah terpisah jadi tiga tumpuk. Ningrum menuangnya lagi ke kaleng, menutupnya, dan mendorongnya ke bawah tempat tidur dengan tumit.
Assalamualaikum, Emak.
Sehat semua di sana? Aku sehat. Sudah agak gemuk malah, Emak jangan khawatir. Di sini makan siangnya jam sebelas, jadi sore aku suka lapar lagi, tapi ya sudah, tahan sampai besok.
Emak, jambu yang di belakang itu berbuah tidak tahun ini? Yang batangnya miring ke arah sumur. Dulu kalau musimnya Bapak suka marah karena aku manjat sampai dahan yang kecil. Kalau berbuah, tolong disimpankan sedikit, jangan dikasih semua ke tetangga. Aku tidak minta banyak. Tujuh saja.
Di sini hujan terus, Mak. Sudah seminggu kayaknya. Aku dengar dari atap.
Ningrum sudah lulus belum? Kalau ketemu bilangin jangan lupa makan. Anak itu kalau ngambek suka tidak makan seharian, dan Emak diam saja, padahal harusnya dimarahi.
Sudah dulu ya, Mak. Kertasnya tinggal ini.
Salam buat semuanya di sana.