Kunci itu masih menyangkut di putaran kedua. Ranti memutarnya ke kanan, menariknya sedikit ke arah dadanya, lalu memutar lagi. Pintu membuka ke dalam dengan bunyi yang ia kenal sejak umur enam tahun.
Ia berdiri di ambang dan tidak masuk.
Ruang tamu itu bersih. Bukan bersih seperti rumah yang ditinggal lalu disapu sekali karena akan ada tamu. Taplak meja terlipat rapi di keempat sudutnya. Kursi rotan didorong masuk sampai sandarannya menyentuh bibir meja. Lantai di bawah jendela mengilap dengan cara yang cuma bisa dihasilkan kain pel yang diperas dua kali.
Ranti melepas sandal, menaruhnya sejajar dengan dinding, dan baru sadar ia melakukannya tanpa diperintah siapa pun.
Empat puluh hari. Orang-orang bilang empat puluh hari itu batas. Sesudahnya rumah boleh diurus, barang boleh dibagi, dan yang tinggal boleh mulai memikirkan hal-hal praktis. Ranti datang untuk hal praktis. Ia sudah menghubungi orang yang mengurus penjualan tanah di Ngadirejo, sudah menyiapkan map berisi sertifikat, dan sudah memberi tahu kantornya bahwa ia mengambil cuti lima hari.
Lima hari. Ia mengucapkannya kepada dirinya sendiri seperti orang memasang pagar.
Di dapur, lampu neon menyala.
Ranti berhenti di ambang pintu dapur. Ia mencoba mengingat apakah ia sendiri yang menyalakannya barusan, dan tahu bahwa tidak. Ia baru masuk. Ia belum sampai dapur.
Saklarnya di sebelah kanan, setinggi bahu, dan catnya sudah mengelupas di satu sudut karena tiga puluh tahun disentuh jari yang sama. Ranti menekannya. Lampu padam. Ia menekannya lagi. Lampu menyala.
"Ya sudah," katanya, pelan, kepada dapur.
Ia menaruh tas di kursi dan mulai berkeliling seperti orang memeriksa barang dagangan. Lemari piring. Rak bumbu. Ember di bawah bak cuci, kering, digantung terbalik. Semua di tempatnya. Semua kering.
Penanak nasi di sudut meja menyala merah.
Ranti menatapnya beberapa saat. Lalu ia membuka tutupnya.
Uap naik ke wajahnya, hangat dan sedikit manis. Nasi di dalamnya putih, penuh sampai sepertiga, dan permukaannya rata karena baru diaduk dengan centong. Ranti menutupnya kembali. Ia mencabut steker dari dinding. Lampu merah itu padam.
Ia berdiri di dapur ibunya dengan kabel di tangan dan berpikir: Bu Tuti.
Tentu saja Bu Tuti. Tetangga sebelah punya kunci sejak zaman ibunya mulai sering ke rumah sakit. Bu Tuti yang mengurus rumah ini selama empat puluh hari. Bu Tuti yang membersihkan, yang menyalakan lampu, yang entah kenapa juga menanak nasi. Ranti menaruh kabel itu di meja dan merasa bahunya turun beberapa senti.
Ia mencuci tangan di bak. Sabun batangan di piring plastik, sudah tipis, dengan cekungan bekas ibu jari di satu sisi.
Di rak piring, gelas-gelas berdiri terbalik dalam satu barisan. Enam gelas kaca bening yang sama. Dan satu gelas belimbing.
Ranti mengambilnya.
Gelas itu bergagang, kaca tebal bergerigi seperti buah belimbing dipotong melintang, warnanya kehijauan. Gagangnya retak. Retakannya lama, berwarna cokelat di dalam garisnya, dan berjalan dari pangkal sampai hampir ke ujung. Kalau dipegang di gagang, gelas itu akan lepas. Semua orang di rumah ini tahu, jadi tidak ada yang memegangnya di gagang.
"Buang saja, Bu."
"Masih bisa dipakai."
"Retak, lho."
"Retak, bukan pecah."
Percakapan itu terjadi mungkin dua belas kali sepanjang hidup Ranti, dengan kalimat yang tidak pernah berubah, seperti dua orang membaca naskah. Ranti membalik gelas itu di telapak tangannya. Di dasarnya ada bercak putih kapur yang tidak pernah hilang meski digosok.
Ia menaruhnya kembali, terbalik, di ujung barisan. Di tempatnya.
Kamar ibunya di belakang, sebelah kiri. Ranti berdiri di depan pintunya cukup lama untuk menyadari bahwa ia sedang berdiri di depan pintu. Lalu ia berbalik dan pergi ke ruang tengah.
Sajadah tergelar di dekat lemari, menghadap agak serong ke kanan. Ibunya selalu bilang kiblat rumah ini tidak lurus dengan dindingnya, dan itu menjengkelkan tukang yang membangunnya. Ranti berjongkok dan membetulkan ujung sajadah yang terlipat.
Kainnya lembap di bagian lutut.
Ranti menekan tempat itu dengan dua jari. Dingin, dan basah tipis, seperti kain yang ditiduri keringat lalu diangin-anginkan setengah kering. Bagian yang lain kering. Hanya di dua tempat itu, kiri dan kanan, sebesar telapak tangan.
Ia menarik tangannya dan menggosokkan ujung jarinya ke celana.
Pintu depan berbunyi. Ranti berdiri terlalu cepat sampai pandangannya menghitam sebentar.
"Ranti?"
Bu Tuti berdiri di ruang tamu dengan daster batik dan rambut diikat asal. Ia membawa mangkuk tertutup piring.
"Sudah sampai jam berapa? Kok ndak bilang-bilang."
"Baru, Bu. Tadi jam dua."
"Ya ampun, sendirian." Bu Tuti menaruh mangkuk di meja. "Ini sayur asem. Aku masak kebanyakan."
Ranti membuka piringnya sedikit dan uapnya keluar. "Makasih, Bu."
"Sudah makan?"
Ranti berhenti.
Bu Tuti tidak menyadari apa pun. Ia sudah berjalan ke jendela dan membuka gordennya lebih lebar, karena begitulah orang yang biasa masuk rumah ini. "Panas ya. Nanti kalau malam ndak usah dibuka, banyak nyamuk dari kebun belakang."
"Bu Tuti," kata Ranti. "Ibu yang bersih-bersih di sini?"
"Bersih-bersih apa?"
"Rumahnya. Bersih sekali."
Bu Tuti menoleh, dan wajahnya berubah dengan cara yang tidak bisa dibaca Ranti. "Aku ndak masuk sini sejak tujuh harinya, Nduk."
"Tapi Ibu pegang kunci."
"Kuncinya aku balikin ke kamu waktu pemakaman. Di amplop, bareng KTP ibumu." Bu Tuti mengibaskan tangan. "Mungkin Pak RT. Atau siapa. Sudah, aku pulang dulu, ayamnya belum dikandangin."
Ia keluar. Sandalnya menggesek lantai teras, lalu tidak terdengar lagi.
Ranti berdiri di ruang tamu ibunya dengan mangkuk sayur asem yang masih hangat di depannya dan tidak bergerak selama mungkin dua menit.
Lalu ia berjalan ke dapur, mengambil piring, mengambil sendok, dan makan sambil berdiri di depan meja. Sayur asemnya asin sedikit. Ia menghabiskannya.
Ia mencuci piring itu, menaruhnya di rak, menyusunnya menghadap ke bawah seperti yang lain.
Malamnya ia tidur di sofa ruang tamu dengan lampu teras dibiarkan menyala. Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa itu karena kamarnya berdebu dan ia terlalu capek untuk membereskannya.
Sekitar jam dua, ia terbangun karena mencium sesuatu.
Minyak kayu putih. Tipis sekali, seperti sisa di kain yang sudah lama kering. Ranti berbaring dengan mata terbuka dan menghirupnya sampai baunya hilang, dan sesudah itu ia tidak yakin baunya pernah ada.
Ia tidur lagi menjelang subuh.
Waktu bangun, penanak nasi di dapur menyala merah, dan stekernya sudah tertancap di dinding.
Ranti tidak mencabutnya lagi.
Ia mandi dengan air yang dingin sekali di pagi hari, memakai baju yang pantas untuk menemui orang, dan berjalan ke kantor kelurahan. Urusannya selesai dalam empat puluh menit. Orang di sana bilang sertifikatnya rapi, ibunya memang selalu rapi, dan mereka turut berduka. Ranti mengucapkan terima kasih tiga kali dengan cara yang sama.
Di jalan pulang ia lewat warung Bu Sri dan membeli sabun cuci piring, karena ia menyadari sesuatu di dapur tadi pagi: sabunnya tinggal seperempat.
Baru di teras ia berhenti dan bertanya kepada dirinya sendiri kenapa ia membeli sabun cuci piring untuk rumah yang akan dijual dalam lima hari.
Sore itu ia duduk di lantai ruang tengah dengan kardus kosong dan tidak mengisi satu pun.
Yang ia lakukan malah membuka laci lemari dan menemukan buku telepon kecil bersampul plastik. Di dalamnya nomor-nomor yang ditulis tangan dengan pulpen berbeda-beda, sebagian sudah dicoret dan ditulis ulang. Nomornya sendiri ada di halaman pertama, ditulis tiga kali. Yang pertama dicoret. Yang kedua dicoret. Yang ketiga tidak.
Ibunya menelepon setiap Minggu sore. Bukan Minggu malam, bukan Sabtu — Minggu sore, antara jam empat dan setengah lima, karena menurutnya itu jam ketika orang kota sudah bangun tidur siang tapi belum sibuk menyiapkan hari Senin. Ranti tidak pernah menanyakan dari mana ia mendapat teori itu.
Telepon itu selalu dibuka dengan kalimat yang sama.
"Sudah makan?"
Bukan halo. Bukan Ranti. Sudah makan.
Dan Ranti, dua puluh sembilan tahun, tinggal sendiri di apartemen dua puluh meter persegi di Jakarta Selatan, selalu menjawab sudah, Bu, padahal sering belum. Lalu ibunya akan bertanya makan apa, dan Ranti akan menyebut sesuatu, dan ibunya akan berkomentar tentang sesuatu itu, dan begitu terus sampai kira-kira sebelas menit.
Sebelas menit. Ranti pernah menghitungnya, sekali, waktu ia sedang kesal karena pekerjaan. Sebelas menit setiap Minggu. Ia ingat memikirkan: itu sembilan jam setahun. Ia ingat merasa pintar karena bisa menghitungnya.
Setahun terakhir teleponnya jadi lebih jarang, dan Ranti yang membuatnya jarang. Ada rapat. Ada perjalanan dinas. Ada yang bilang nanti aku telepon balik, Bu, lalu tidak.
Ibunya tidak pernah menagih. Ia hanya menelepon lagi Minggu berikutnya, jam empat, dengan kalimat yang sama.
"Sudah makan?"
Ranti menutup buku telepon itu dan menaruhnya kembali di laci, di tempatnya, menghadap ke arah yang sama.
Ia berdiri, dan kakinya kesemutan karena terlalu lama duduk bersila.
Di dapur, penanak nasi masih menyala merah. Ranti membuka tutupnya sekali lagi, dan uapnya keluar, dan nasinya masih penuh sampai sepertiga, rata, seperti baru diaduk.
Ia mengambil piring. Ia mengambil centong.
Ia berhenti dengan centong di tangan selama beberapa detik.
Lalu ia menaruhnya kembali, menutup penanak itu, dan pergi tidur di sofa dengan lampu teras menyala.
Ibunya punya urutan.
Bangun sebelum subuh. Jerang air. Salat. Tanak nasi. Sapu ruang tamu dari sudut kanan belakang ke pintu depan, tidak pernah sebaliknya. Jemur bantal hari Selasa dan Jumat. Siram tanaman setelah matahari lewat atap, tidak sebelum. Lap meja dengan kain yang dilipat empat, dibalik di tengah jalan.
Waktu kecil Ranti mengira semua ibu begitu. Waktu remaja ia mengira ibunya kaku. Waktu kuliah ia pernah bilang, dengan nada yang sekarang membuatnya ingin menutup mulutnya sendiri, bahwa hidup ibunya sempit.
Ibunya waktu itu sedang melipat kain lap. Ia menyelesaikan lipatannya dulu, baru menjawab.
"Kalau ndak diurus tiap hari, rumah itu cepat sekali jadi bukan rumah."
Ranti berbaring di sofa dan mendengarkan rumah yang tidak berbunyi apa-apa.
Di luar, seekor tokek berbunyi tujuh kali dan berhenti.