Angin gunung bertiup kencang, membawa bau besi dan keringat kuda. Ranti menarik jubah penenun lebih rapat ke tubuhnya, jari-jari yang parah cedera jahitan lama terasa kaku oleh dingin. Di atas kepala, langit terbuka lebar—Pura Para Raja tidak memiliki atap, hanya tiang-tiang batu yang menjulang seperti tulang-tulang raksasa. Awan putih menyentuh puncak tiang, seolah ingin meraih mahkota yang akan digantungkan.
Suara doa seharusnya memenuhi udara. Tapi yang terdengar adalah derap kaki berlari, gemerincing pedang, dan perintah kasar. Tentara Sekarwangi sudah mengepung puncak gunung. Mereka tidak menyembunyikan niatnya.
Ranti mengendap di belakang Baswara, jarak dua langkah. Pangeran itu berdiri tegak, jubah hitamnya berkibar seperti sayap burung gagak. Tidak ada ketegangan di bahunya, tidak ada gerakan mencari jalan keluar. Seolah dia sudah menerima apa pun yang akan terjadi.
Di saku dalam jubah Ranti, Jaruntuk Emas panas seperti arang. Logamnya berdenyut, seolah tahu ini saatnya. Keputusanku, bukan nasib, bisik suara batinnya. Kali ini, dia tidak akan menolak.
Mereka melangkah masuk ke ruang upacara. Tiang kayu jati hitam menyangga mahkota setengah jadi yang digantung di tengah—kain hitam lebar dua tangan, benang merah cekikan masih kosong menunggu. Di sekelilingnya, para penenun pembantu berlutut, tangan gemetar. Mereka tahu apa arti benang yang belum selesai.
Sekarwangi sudah ada di sana. Putri itu mengenakan kebaya merah darah, cincin Telaga Kaca berkilau di jari manisnya. Di sisi kanannya, Wijayakrama berdiri kaku, wajahnya pucat. Tumenggung, komandan tertua, mengunyah sirih dengan pelan, matanya tidak berani menatap mahkota.
"Sudah waktunya, Penenun Helam," kata Sekarwangi, suara dingin seperti es yang pecah. "Tenun motif Pangeran Baswara. Sekarang. Atau tentara akan masuk ke Griya Sutrajaya dan menemukan sendiri apa yang kau sembunyikan."
Dia mengangkat surat sanggahan, kertasnya bergetar di udara. "Atau mungkin... mereka akan menemukan sesuatu yang lebih menarik tentang darahmu."
Ranti tidak menoleh. Dia tahu ancaman itu bukan gertakan. Tapi dia juga tahu—mahkota sudah menunggu terlalu lama.
Baswara bergerak. Mata kirinya menutup, bekas luka panah berdenyut seperti denyut jantung. Dia tidak melihat Sekarwangi. Dia hanya melihat Ranti.
"Tenunlah motifku," katanya, suara rendah, tidak bergema. Bukan permintaan. Penyerahan. "Atau aku jatuh."
Ranti menghela napas. Dia merasakan beratnya kata-kata itu—bukan ancaman, bukan ultimatum, tapi pengakuan. Baswara tahu. Dia selalu tahu.
Jari-jari Ranti menyentuh mahkota. Kain hitam bergelombang seperti hidup, benang merah cekikan bergetar, menolak. Ribuan bisikan arwah berteriak sekaligus, suara Raja Wisanggeni mendominasi: "Kau membelah warisanku!"
Tapi Ranti tidak gentar. Dia mengeluarkan Jaruntuk Emas dari sakunya. Logamnya bersinar merah muda, bukan merah darah. Dia meletakkannya di atas mahkota—tidak untuk menenun motif Baswara.
Tapi untuk memotong.
Benang merah Pangeran Adipati menentang, melilit di sekitar jari Ranti seperti ular. Tusukan pertama. Darah menetes ke kain. Tusukan kedua. Suara arwah semakin keras, seperti ribuan tangan memukul dinding ruang tenunan.
"Berhenti!" teriak Sekarwangi, tapi suaranya tenggelam dalam deru.
Ranti memotong benang merah.
Mahkota bergemetar. Warna-warna baru—hitam, putih, biru, hijau—menyatu jadi motif yang tidak pernah ada sebelumnya. Motif Pembebasan.
Arwah raja-raja terdahulu diam.
Lalu, satu per satu, mereka mulai menyanyi. Tembang damai, seperti angin yang berbisik melalui daun cemara.
Mahkota menolak Baswara.
Benang tidak merayap ke kepalanya. Mereka malah bergerak—ke arah Ranti.
"Maka aku tidak raja," kata Baswara, suara datar. Dia mundur selangkah, jubah hitamnya menyapu lantai batu.
Sekarwangi berteriak perintah. Tapi Wijayakrama sudah menahan tentara, matanya tidak berani lepas dari mahkota yang kini bergantung diam. "Mahkota sendiri menolak," katanya, suara gemetar. "Ini bukan pemberontakan. Ini... keputusan."
Tahta kosong.
Sekarwangi kalah tanpa pertempuran.
Wirosuto tersenyum tipis di sudut ruang. Tongkat bambunya jatuh ke lantai, tidak ada yang mendengar bunyinya. Tugasnya selesai.
---
Lorong batu Pura Para Raja dingin, angin gunung berisik seperti tawa terpendam. Ranti dan Baswara berjalan bersebelahan, tapi tidak saling menyentuh.
"Kau memotong benang darahku," kata Baswara, akhirnya.
Ranti tidak menoleh. "Aku menenun benang kehidupanku."
Dia terus berjalan ke utara, meninggalkan Baswara di belakang. Tidak ada janji untuk bertemu lagi. Tidak ada air mata. Hanya ketenangan aneh, seperti beban yang akhirnya dilepas.
Jaruntuk Emas di tangannya masih bersinar merah muda.
---
Telaga Kaca tenang malam itu. Airnya jernih, memantulkan bintang-bintang seperti permata tergeletak di dasar. Mbah Lintang duduk di tepi, jari-jari keriputnya bergerak seolah menenun udara.
Ranti datang tanpa suara. Dia berdiri di sisi nenek moyangnya, melihat pantulan wajahnya di air—tanpa cedera, tanpa bisikan.
"Siklus selesai," kata Mbah Lintang, suara serak tapi jelas. "Penenun Terakhir pulang."
Ranti melempar Jaruntuk Emas ke air. Cahaya merah muda tenggelam, telaga kembali tenang.
Dia berdiri sendirian, jari-jari bebas dari benang. Ketenangan asli, bukan diam paksa.
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun, dia tidak mendengar suara apa pun.
Hanya angin. Hanya air. Hanya dirinya.