DuaPena menemani menyusun kerangka, menjaga benang cerita, dan merapikan naskah — tetapi kalimat terakhir selalu keputusan penulisnya.
Mulai menulis
oleh Aryatama Anshari

oleh Aryatama Anshari
,ahli mananenaliat, penenun helam mahkota di Kadaton Wastugiri yang katanya menyimpan sisa arwah para raja terdahulu di setiap benangnya. Ketika Pangeran Baswara diminta dirinya menenun mahkota penobatan sang pangeran, benang-benang itu justru memperlihatkan ingatan yang tak seharusnya ada: tangan Baswara sendiri yang mencekik ayahnya, Raja Wisanggeni, di malam purnama tiga bulan lalu—malam yang sama saat Ranti pertama kali bertemu dan jatuh hati pada sang pangeran di tepi Telaga Kaca. Jika ia membisukan penglihatannya demi cinta yang terlarang itu, tahta Kadaton akan jatuh ke tangan pembunuh dan arwah para raja akan bangkit menuntut darah baru; namun jika ia bersuara, bayang-bayang mahkota mengancam akan membongkar rahasia Ranti sendiri—bahwa darahnyalah, bukan sembarang penenun, yang sanggup memanggil arwah itu keluar dari benang.