DuaPena menemani menyusun kerangka, menjaga benang cerita, dan merapikan naskah — tetapi kalimat terakhir selalu keputusan penulisnya.
Mulai menulis
oleh Aryatama Anshari
Tujuh tahun setelah pergi, Wulan Kirana pulang ke Desa Ujung Karang dengan satu tujuan: membuktikan bahwa ayahnya, Wisesa Ardaya, bukan penjaga mercusuar lalai yang membiarkan ibunya tenggelam. Ia membawa buku catatan, alat rekam, dan kepercayaan penuh pada fakta. Namun desa itu menyambutnya dengan kesopanan yang dingin, dan Rumah Lama Keluarga Ardaya menyimpan sesuatu yang tak sanggup dijelaskan logika — selendang biru mendiang ibunya masih basah, bertahun-tahun setelah rumah itu mengering. Dalam jurnal sang ayah, Wulan menemukan kalimat-kalimat yang mengguncang niatnya sendiri: bahwa nyala mercusuar bukan untuk memandu kapal pulang, melainkan untuk menahan sesuatu tetap tenggelam di Palung Sunyi. Setiap kesaksian yang ia kumpulkan dari Kakek Broto — tentang Darah Penjaga, tentang utang yang diwariskan turun-temurun — membuat batas antara mitos dan fakta semakin kabur. Tulisan ayahnya sendiri berubah dari puitis menjadi kacau menjelang malam kematian ibunya, dan Wulan tak lagi yakin apakah ia sedang menyusun kebenaran atau menulis ulang kegilaan yang sama. Jejak terakhir sang ayah menuntunnya ke Mercusuar Tanjung Sengkala, tempat ia akhirnya menyalakan api itu dengan tangannya sendiri. Malam itu, laut yang seharusnya tenang mengganggu ketenangannya sendiri, dan halaman terakhir jurnal ayahnya menyebut namanya — seolah sudah tahu ia akan datang. Wulan berdiri di ambang pilihan yang tak bisa ia jelaskan secara rasional: pergi dan mengakhiri semuanya, atau menyalakan nyala itu lagi tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya ia jaga. Jika api itu padam malam ini, apa — atau siapa — yang akan naik dari dasar Palung Sunyi?

oleh Aryatama Anshari
Ningrum, 41 tahun, bekerja di Unit Surat Tak Terkirim Kantor Pos Pemeriksa Cirebon: membuka surat yang tidak sampai, mencari alamat pengirim, dan bila enam bulan tidak ketemu, memusnahkannya sesuai prosedur. Ia rapi dan bangga pada kerapiannya. Yang tidak ia ketahui, sejak sebelas tahun lalu ada satu tulisan tangan yang datang berulang ke mejanya, ditujukan ke alamat rumah masa kecilnya yang sudah digusur jalan tol. Surat-surat itu ceria dan biasa saja. Menanyakan pohon jambu yang sudah lama ditebang. Pembaca membacanya utuh, dan pembaca akan tahu lebih dulu daripada Ningrum siapa yang menulisnya.

oleh Aryatama Anshari
,ahli mananenaliat, penenun helam mahkota di Kadaton Wastugiri yang katanya menyimpan sisa arwah para raja terdahulu di setiap benangnya. Ketika Pangeran Baswara diminta dirinya menenun mahkota penobatan sang pangeran, benang-benang itu justru memperlihatkan ingatan yang tak seharusnya ada: tangan Baswara sendiri yang mencekik ayahnya, Raja Wisanggeni, di malam purnama tiga bulan lalu—malam yang sama saat Ranti pertama kali bertemu dan jatuh hati pada sang pangeran di tepi Telaga Kaca. Jika ia membisukan penglihatannya demi cinta yang terlarang itu, tahta Kadaton akan jatuh ke tangan pembunuh dan arwah para raja akan bangkit menuntut darah baru; namun jika ia bersuara, bayang-bayang mahkota mengancam akan membongkar rahasia Ranti sendiri—bahwa darahnyalah, bukan sembarang penenun, yang sanggup memanggil arwah itu keluar dari benang.

oleh Aryatama Anshari
Seorang arsiparis menemukan semua surat di kotanya ditulis orang yang sama.