DuaPena menemani menyusun kerangka, menjaga benang cerita, dan merapikan naskah — tetapi kalimat terakhir selalu keputusan penulisnya.
Mulai menulis
oleh Aryatama Anshari
Di Muara Tulang ada orang yang bisa memindahkan sakit orang lain ke tubuhnya sendiri. Sakit itu tidak hilang, hanya pindah, dan tinggal. Harganya ingatan: untuk menampung sesuatu, sesuatu yang lain harus keluar, dan yang keluar tidak bisa dipilih. Ranti sudah dua puluh tahun menampung sakit sekampung dan kini nyaris tidak ingat apa-apa. Ketika putrinya, Larasati, mendapati dirinya mewarisi hal yang sama, ia harus memilih: membiarkan ibunya mati membawa sakit orang banyak, atau mengambil sakit itu darinya — dan lupa bahwa ia pernah punya ibu.

oleh Aryatama Anshari
,ahli mananenaliat, penenun helam mahkota di Kadaton Wastugiri yang katanya menyimpan sisa arwah para raja terdahulu di setiap benangnya. Ketika Pangeran Baswara diminta dirinya menenun mahkota penobatan sang pangeran, benang-benang itu justru memperlihatkan ingatan yang tak seharusnya ada: tangan Baswara sendiri yang mencekik ayahnya, Raja Wisanggeni, di malam purnama tiga bulan lalu—malam yang sama saat Ranti pertama kali bertemu dan jatuh hati pada sang pangeran di tepi Telaga Kaca. Jika ia membisukan penglihatannya demi cinta yang terlarang itu, tahta Kadaton akan jatuh ke tangan pembunuh dan arwah para raja akan bangkit menuntut darah baru; namun jika ia bersuara, bayang-bayang mahkota mengancam akan membongkar rahasia Ranti sendiri—bahwa darahnyalah, bukan sembarang penenun, yang sanggup memanggil arwah itu keluar dari benang.

oleh Aryatama Anshari
Bagaimana jika serpihan mahkota dari kerajaan langit yang runtuh dua abad lalu ternyata masih hidup dan memilih pewarisnya sendiri di tengah kota yang sekarat oleh hujan abu? Sena Ardaya, pemulung puing langit berusia 19 tahun di Distrik Bawah kota Wirasaba, menemukan pecahan Mahkota Cakracandra di antara reruntuhan yang jatuh dari pulau-pulau langit yang masih melayang di atas kota. Pecahan itu mulai memanggilnya menuju istana utama yang tersisa, sekaligus menandai dirinya sebagai buruan utama Dewan Abu—rezim yang menjatah udara bersih lewat kartu identitas dan memburu mahkota itu untuk mengukuhkan kekuasaan mereka selamanya. Jika Sena gagal mencapai reruntuhan istana lebih dulu, Dewan Abu akan menguasai mahkota utuh dan mengubah hujan abu menjadi senjata permanen, memusnahkan seluruh Distrik Bawah termasuk adiknya, Wulan, yang paru-parunya sudah nyaris habis dimakan abu.